Tidur Saat Kapal Bocor, 5 Turis Tewas, Begini Kisahnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas kebersihan DKI Jakarta bersiap memindahkan sampah dari kapal yang diambil dari kawasan teluk Jakarta di Pelabuhan Muara Angke Jakarta, 28 Desember 2015. Petugas kebersihan dapat mengangkut sampah hingga 50 ton perhari yang berasal dari Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    Seorang petugas kebersihan DKI Jakarta bersiap memindahkan sampah dari kapal yang diambil dari kawasan teluk Jakarta di Pelabuhan Muara Angke Jakarta, 28 Desember 2015. Petugas kebersihan dapat mengangkut sampah hingga 50 ton perhari yang berasal dari Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim gabungan polisi dan petugas SAR memperluas pencarian terhadap satu wisatawan korban tenggelamnya perahu di perairan Kepulauan Seribu, kemarin. Pencarian dilakukan dengan mengitari Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, Pulau Karang Beras, Pulau Karang Lebar, dan Pulau Karang Kering Cete.

    "Kami juga menyisir di setiap pantai sekitar 5-10 mil karena kemungkinan (korban) terdampar di pulau-pulau sekitar," kata Kepala Kepolisian Resor Kepulauan Seribu Ajun Komisaris Besar John Weynart Hutagalung kepada Tempo, kemarin.

    Baca juga:
    Pembunuhan Feby UGM: Ada 56 Adegan, Pelaku Sempat Berdoa

    Poster Risma Beredar, Pesaing Berat bagi Ahok? Ini Kata PDIP

    John menjelaskan, satu korban yang masih dinyatakan hilang adalah Giokliong, 58. Pencarian melibatkan 68 orang dari Basarnas, Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP), Direktorat Polisi Air, kepolisian resor dan sektor, Pospol, Dinas Perhubungan, Satpol PP, Pemadam Kebakaran, dan nelayan.

    Delapan kapal dikerahkan dalam pencarian kemarin, yakni KN Keris KPLP, KN SAR Jakarta, Kapal Kerja 02 Dishub, Speed Damkar, Speed Pol PP, KM Makmur, KP Bira Polair Polres Kepulauan Seribu, dan KP Direktorat Polair. "Tapi korban belum juga ditemukan," ujar John.

    John melanjutkan, pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terhadap kondisi arus ke arah barat, angin, dan cuaca juga dilakukan. "Untuk mengetahui terbawa ke mana korban dalam waktu sehari setelah kejadian."

    Sabtu lalu, lima wisatawan pemancing ditemukan tewas di Perairan Pulau Air, Kepulauan Seribu. Perahu yang mereka sewa bocor hingga tenggelam sekitar 1,5 mil barat Pulau Panggang, Sabtu dinihari. Mereka yang tewas adalah Doni Marsel (23), Gioksun (47), Fahrul Majid (35), Sonson (45), dan Oki (56).

    Adapun sang nakhoda, Abdul Wahab, 37, dan seorang wisatawan, Kristain, 32, selamat. Wahab selamat setelah berenang ke pulau terdekat. Sedangkan Kristain bertahan dengan berpegangan pada bambu sepanjang empat meter hingga ditemukan oleh tim SAR.

    Para wisatawan yang berjumlah total tujuh orang itu akan memancing ikan. Mereka berangkat Jumat pukul 17.15 WIB dari Pulau Panggang. Menurut keterangan saksi, sekitar pukul 24.00 WIB, semua awak kapal tertidur dan baru 2 jam kemudian sadar kapal sudah mulai tenggelam.

    Polisi belum menetapkan tersangka atas tenggelamnya kapal tersebut. "Kami masih memeriksa saksi-saksi dan melakukan pendalaman," ujar John.

    Wahab juga diperiksa. Dia baru diperiksa di Markas Kepolisian Resor Kepulauan Seribu, kemarin, karena sebelumnya lemas dan syok. "Kondisi fisik Wahab lemas, stres, dan sempat meminta banyak obat," kata Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Polres Kepulauan Seribu Inspektur Satu Ferry Budiharso.

    Berdasarkan pemeriksaan itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kepulauan Seribu Ajun Komisaris Doddy Monza mengungkapkan, Wahab tidak mengetahui kapalnya bocor. "Jumat sore kan berangkat memancing, kondisi kapal tidak ada masalah,” katanya, menirukan keterangan Wahab.

    AFRILIA SURYANIS | EGI ADYATAMA | FRISKI RIANA

    Baca juga:
    Poster Risma Beredar, Pesaing Berat bagi Ahok? Ini Kata PDIP
    Tragedi Yuyun dan Feby: Inilah  5 Hal yang Mengerikan



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.