Siaran Live Bunuh Diri di Facebook Baru Pertama Kali Terjadi  

Sabtu, 18 Maret 2017 | 17:17 WIB
Siaran Live Bunuh Diri di Facebook Baru Pertama Kali Terjadi  
Orangtua Pahinggar Indrawan saat di pemakaman, TPU Jeruk Purut, Sabtu, 18 Maret 2017. INGE KLARA/TEMPO

TEMPO.CO, Jakarta - Dunia maya dihebohkan dengan posting-an video siaran langsung pemilik akun Facebook bernama Pahinggar Indrawan yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. "Ini baru pertama kali," kata Nukman Luthfi, pengamat media sosial, kepada Tempo, Sabtu, 18 Maret 2017.

Nukman mengatakan perkembangan teknologi memang bisa membuat setiap orang terkejut. Sisi gelap dari perkembangan teknologi itu, kata dia, memunculkan banyak hal yang bisa dieksploitasi dan nyaris tak terbatas. "Setiap orang pengen dilihat. Normalnya seperti itu," ujarnya.

Baca: Ini Alasan Pahinggar Siarkan Bunuh Diri di Facebook

Kematian Pahinggar yang tayang di media sosial itu pun, menurut Nukman, di luar dugaan semua orang. Ia melihat, teknologi membuka banyak hal yang bisa membuat orang berbuat hal negatif. Selain itu, dunia digital akan bergerak lebih dulu daripada polisi atau orang yang punya kemampuan untuk mencegah hal negatif terjadi.

"Kita, mau tidak mau harus menerima kenyataan itu. Kenapa sampai seekstrim ini? Karena dia (Pahinggar) mau pamer," ujarnya.

Pahinggar, kata Nukman, memiliki fasilitas untuk menunjukkan proses bunuh dirinya, yaitu karena adanya fitur live di Facebook. "Kalau tidak ada live Facebook kan dia tidak bisa pakai," katanya menambahkan. Karena itu, Nukman mengimbau semua orang untuk bersiap-siap menghadapi segala macam efek negatif dari perkembangan teknologi.

Kasus kematian Pahinggar sempat membuat geger media sosial sejak 17 Maret 2017. Ia gantung diri di rumahnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan menayangkannya secara langsung di Facebook. Dari tayangan itu pula, terungkap bahwa sebelum mengakhiri hidupnya, Pahinggar sempat bertengkar dengan sang istri.

FRISKI RIANA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan