Minggu, 27 Mei 2018

Pacar Gantung Diri, Begini Perasaan Wulan

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Gantung Diri

    Ilustrasi Gantung Diri

    TEMPO.CO, Jakarta - Suci Wulandari, pacar Kiki Darma Yuda, laki-laki yang nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di depan pintu kamarnya, masih berduka. Gadis yang baru saja berulang tahun ke-17 pada hari Kiki bunuh diri tersebut merasa sangat kehilangan. 

    Kiki, 22 tahun, ditemukan tewas gantung diri pada Selasa, 5 Desember 2017.

    Wulan mengatakan masih tidak menyangka Kiki nekat bunuh diri. "Saya enggak percaya Kiki sekarang udah enggak ada, rasanya kayak mimpi," katanya kepada Tempo sambil terisak, Rabu, 6 Desember 2017. 

    Ditemui di kediamannya, Jalan Bangka Raya Gang Satria RT 007 RW 011, Pela Mampang, Jakarta Selatan, Wulan mengatakan hampir setiap hari korban main ke rumah dan menemuinya. 

    Baca: Kiki Gantung Diri pada Tanggal Jadian dan Ulang Tahun Pacarnya

    Hubungan Wulan dan Kiki sudah terjalin dua tahun. Wulan berujar tidak tahu lagi harus berbuat apa. "Saya tuh sayang sama Kiki," ujarnya.

    Maryanah, ibu Wulan, juga menangis mengenang kebersamaan keluarga dengan Kiki.  Di mata Maryanah, Kiki adalah sosok yang pendiam, baik, dan suka membantu keluarga Wulan.

    "Ibu merasa seperti mimpi Kiki sudah enggak ada, Kiki itu datang setiap hari, siang dan malam ke sini. Sudah Ibu anggap seperti anak Ibu sendiri, makan bareng di sini sering," ucapnya.

    Keluarga Wulan mengetahui Kiki tewas gantung diri dari tetangga yang mendapat pesan pendek dari salah satu warga tempat Kiki tinggal. "Ibu dan Wulan langsung datang ke rumah Kiki dan Ibu peluk jenazah Kiki yang masih tergantung. Wulan juga sempat beberapa kali pingsan pagi itu," tutur Maryanah.

    MOH. KHORY ALFARIZI | TD 


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.