Polisi: Ada Kejanggalan Video Viral Sobekan Al Quran di Kebayoran

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sobekan Al-Quran yang berserakan di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Foto/Tempo

    Sobekan Al-Quran yang berserakan di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Foto/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Polres Metro Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar mengatakan ada kejanggalan dalam video viral penyobek kitab suci Al Quran yang terjadi di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    "Yang viral (video viral penyobek Al Quran) juga belum ketemu orangnya. Kami jadi muncul kecurigaan kenapa saat itu tidak lapor langsung ke polisi," ujar Indra saat dikonfirmasi, Selasa, 29 Mei 2018.

    Baca : Video Remaja Ancam Jokowi, Polisi Sasar 5 Teman Sekolah RJ

    Indra Jafar menilai ada unsur kesengajaan dari orang di video tersebut menyebarkan video. Apakah memang sengaja ingin memecah belah karena kondisi politik yang dikaitkan dengan agama sedang panas, atau mungkin ada tujuan lain.

    "Iya betul (ada unsur kesengajaan). Satpam pun juga tidak mengenal sama sekali identitas yang melihat," tutur Indra.

    Meskipun demikian, polisi masih terus mencari tahu siapa pelaku penyobek Alquran untuk mengetahui apa motifnya. "Kami sama-sama masih lacak dan dalami fotonya," kata Indra menambahkan.

    Sebelumnya beredar berita polisi masih mendalami kasus viralnya sebuah video berdurasi 27 detik yang menampilkan penyobekan kitab suci Al Quran di Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan. Polisi mendalami asal mula tersebarnya video tersebut dari penyebar video itu.

    "Iya, dia sudah dimintai keterangan," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Mohammad Iqbal, 23 Mei 2018 tentang video viral sobekan kitab Al Quran tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.