OK OTrip Amburadul, Sopir dan Penumpang Transaksi Tunai

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Angkot yang sudah terintegrasi dengan program OK-Otrip menaikkan dan menurunkan penumpang di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, 16 Januari 2018.  TEMPO/Subekti.

    Angkot yang sudah terintegrasi dengan program OK-Otrip menaikkan dan menurunkan penumpang di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, 16 Januari 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, JakartaGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya menghapus nama program OK OTrip. Di akhir masa uji coba 15 Januari-30 September 2018 program itu, Anies Baswedan menyatakan menginginkan nama baru yang dianggap bisa lebih mencerminkan transportasi yang terintegrasi di Jakarta.

    Baca juga:
    5 Kendala OK OTrip di Lapangan, Tidak Ada Soal Nama

    Penelusuran Tempo menemukan bukan soal nama yang menjadi kendala di lapangan. Tapi pelaksanaannya yang masih amburadul. Mulai dari mesin pendukung integrasi tarif hingga tingkat disiplin penumpang dan pengemudi.

    Sopir angkutan kota (angkot) OK 17, rute Terminal Senen-Terminal Pulogadung, Orden Naibaho, misalnya. Dia menuturkan mesin tapping di angkot yang dikemudikannya kerap mengalami gangguan atau error.

    Mesin itu juga lamban dalam membaca data kartu OK-OTrip penumpang. “Kalau penumpang turun berbarengan repot, kelamaan berhentinya, dan mobil yang dibelakang pasti ngelaksonin terus,” katanya mengeluh, Senin 1 Oktober 2018.

    Baca:
    Anies Baswedan Hapus Program OK OTrip

    Tempo juga sempat mencoba menempelkan kartu OK-OTrip pada mesin tapping di angkutan kota OK 17. Namun, mesin itu memerlukan waktu lebih dari satu menit untuk bisa mendata transaksi itu.

    Kendala lainnya ialah, masih ada penumpang yang membayar ongkos tunai pada sopir. Ini tidak diperkenankan dalam OK OTrip yang menerapkan sistem rupiah per kilometer untuk para operatornya. Tapi, dari 14 penumpang OK 17, ada empat orang yang memberikan uang tunai sekitar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu pada Orden.

    Satu penumpang OK 17, Risa, mengungkapkan terpaksa membayar ongkos tunai karena lupa membawa kartu OK-OTrip. “Biasanya juga saya bawa, ini karena buru-buru saja,” tutur perempuan berusia 29 tahun itu.

    Baca:
    OK OTrip Baru Anies Baswedan, Transjakarta Gandeng 6 Operator Bus

    Orden mengungkapkan terpaksa menerima ongkos tunai dari penumpang itu karena pemilik angkutan kerap telat membayarkan gajinya sebesar Rp 3,6 juta per bulan, sesuai upah minimum regional DKI Jakarta. Pria berusia 46 tahun ini pernah telat menerima gaji hingga 15 hari. “Gimana lagi, masak gak beli minum, makan, dan rokok,” keluhnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.