Jumat, 16 November 2018

Sara Djojohadikusumo Tak Tolak untuk Jadi Wagub DKI, tapi...

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Politikus Partai Gerindra Sara Djojohadikusumo di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu, 7 November 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Politikus Partai Gerindra Sara Djojohadikusumo di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu, 7 November 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Gerindra Sara Djojohadikusumo menyatakan tidak akan menolak jika mendapat amanah untuk menduduki posisi wagub DKI Jakarta menggantikan Sandiaga Uno. Jika memang ada mandat dari partai, maka ia harus siap menjalankan mandat tersebut.

    Baca: Sara Djojohadikusumo Sambangi Balai Kota, Bahas Calon Wagub DKI?

    "Tapi untuk saat ini, bukan saya pribadi yang mengajukan diri (jadi wakil gubernur)," ujar wanita yang memiliki nama lengkap Rahayu Saraswati Djojohadikusumo itu di balai kota Jakarta pada Rabu, 7 November 2018.

    Sara menyatakan tidak memiliki ambisi masuk dalam jajaran eksekutif. Apalagi menjadi wakil gubernur DKI. "Saya menyadari, saya siapa dan kemampuan saya masih jauh, masih harus banyak belajar," ujarnya.

    Kursi wakil gubernur DKI kosong setelah Sandiaga Uno mundur karena mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto. Berdasarkan aturan, kursi wagub bisa diisi oleh orang baru yang disorongkan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebab, dua partai inilah yang mengusung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga dalam Pilkada DKI 2017.

    Nama Sara pada September lalu santer disebut bakal dicalonkan oleh Partai Gerindra untuk menduduki kursi wakil gubernur. Namun belakangan isu itu dibantah sendiri oleh pengurus Gerindra Jakarta.

    Baca: Jadi Calon Wagub DKI? Sara Djojohadikusumo: Biar Ada Emak-Emak

    Pada 5 November 2018, pengurus PKS dan Gerindra telah bertemu untuk membahas calon wagub DKI. Dalam pertemuan itu disepakati nama yang akan diajukan berasal dari PKS. Ketua Dewan Pengurus Daerah Jakarta  Mohamad Taufik membenarkan adanya kesepakatan itu. "Saya ingin mengamankan kebijakan Ketua Umum, saya serahkan kursi wagub ke PKS," ujar Taufik di DPRD Jakarta, Rabu, 7 November 2018. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.