Insiden Granat Meledak, Warga Minta Pagar, Danrem: Pakai Apa?

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi memasang garis polisi di lokasi terjadinya ledakan granat yang menyebabkan tiga anak menjadi korban di Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat 15 Februari 2019. Ketiga anak itu bermain granat jenis GLM yang ditemukan di lapangan tembak tak jauh dari lokasi kejadian. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

    Polisi memasang garis polisi di lokasi terjadinya ledakan granat yang menyebabkan tiga anak menjadi korban di Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat 15 Februari 2019. Ketiga anak itu bermain granat jenis GLM yang ditemukan di lapangan tembak tak jauh dari lokasi kejadian. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

    TEMPO.CO, Bogor - Komandan Korem 061/Surya Kencana, Kolonel Inf. Novi Helmy belum bisa menentukan sikap terkait pembuatan pagar di sekeliling lapangan tembak usai insiden granat meledak.

    Baca: Insiden Ledakan Granat, Camat Permasalahkan Lapangan Tembak

    Permintaan pembatas yang tegas di lapangan tembak di Desa Ciaruteun, Kabupaten Bogor itu disampaikan Camat Cibungbulan Yudi Nurzaman. Permintaan itu diajukan setelah insiden granat meledak dan menewaskan dua anak Desa Ciaruteun, yang menemukan dan memainkan bahan peledak itu.  

    “Dipagar gimana, pakai apa? Luas itu,” kata Danrem 061 Helmy kepada Tempo, Sabtu 16 Februari 2019.

    Helmy mengatakan, lokasi lapangan tembak yang berbatasan langsung dengan tanah masyarakat juga menjadi alasan pembuatan pagar sulit dilakukan. “Karena itu bersebelahan, mungkin kan ada juga tanahnya dari masyarakat,” kata Helmy.

    Untuk mencegah insiden granat, Helmy mengatakan secara prosedural setiap ada kegiatan latihan oleh aparat pasti ada pemberitahuan agar masyarakat tidak mendekat ke lapangan tembak.

    “Setiap ada latihan kita memberikan imbauan, di sana kan ada babinsa, mereka juga mengimbau,” kata Helmy.

    Setelah latihan, lapangan tembak juga disisir untuk mengantisipasi adanya amunisi yang tertinggal di lokasi. “Setiap latihan itu kan punya perizinan, kemudian ya satuan itu yang menjaga, setelah itu jadi steril, itu tanggungjawab masing-masing satuan yang menggunakan lapangan itu,” kata Helmy.

    Dalam kasus granat meledak dan menewaskan dua anak, Helmy membuka kemungkinan ada amunisi yang terlewat dari penyisiran petugas. “Mungkin setelah dibersihkan ada yang ketinggal, dan ditemukanlah oleh anak-anak itu,” kata Helmy.

    Sebelumnya, Camat Cibungbulang, Yudi Nurzaman meminta batas tegas antara lapangan tembak dengan lingkungan masyarakat. “Saya berharap pada jajaran TNI/Polri untuk segera membangun, misalnya pagar penghalang, atau memperketat penjagaan agar masyarakat tidak mudah ke lapangan tembak,” kata Yudi.

    Baca: Tewaskan Dua Bocah Bogor, Begini Beda Granat Tangan dan GLM

    Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan pihaknya baru akan melakukan pengecekan lokasi terkait permintaan pemagaran lapangan tembak usai insiden granat meledak. “Nanti Kita kirim timnya untuk melihat situasi yah, kalau memang khawatir terjadi berulang ulang ya perlu juga kita sterilisasi gitu ya,” singkat Ade.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.