Polisi Periksa Saksi Kematian Anggota Paskibra, Siapa Saja?

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka mencium bendera Merah Putih saat upacara pengukuhan di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Presiden mengukuhkan 68 anggota Paskibraka. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka mencium bendera Merah Putih saat upacara pengukuhan di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Presiden mengukuhkan 68 anggota Paskibraka. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan penyidik masih melakukan sejumlah pemeriksaan dalam kasus kematian anggota Paskibra (Pasukan pengibar bendera) Tangerang Selatan, Aurellia Quratu Aini.

    Menurut Argo, sejumlah saksi sedang diperiksa walau pun tidak ada laporan polisi dari pihak keluarga Aurellia. 

    "Untuk hari ini dari laporan yang sama terima adalah memeriksa beberapa saksi. Terutama yang menjadi pelatih," ujar Argo di kantornya, Selasa, 6 Agustus 2019.

    Dihubungi terpisah, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tangerang Selatan Ajun Komisaris Muharram Wibisono membenarkan pernyataan Argo. Menurut dia, pemeriksaan dilakukan untuk menghimpun informasi.

    "Iya. Dari PPI (Purna Paskibraka Indonesia)," kata dia.

    Aurellia Quratu Aini meninggal dunia saat akan dibawa ke rumah sakit pada Kamis, 1 Agustus 2019. Dugaan adanya kekerasan yang dialami oleh warga Cipondoh, Tangerang tersebut saat mengikuti Paskibra mencuat setelah hari kematiannya. Salah satunya disampaikan anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

    Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan, Aurellia mengaku sempat ditampar oleh salah satu seniornya di Paskibra. Pengakuan itu disampaikan Aurellia kepada sang ibu. Selama mengikuti pelatihan, Aurellia disebut juga pernah dihukum push up dengan cara yang tidak benar, yaitu dengan tangan dikepal sehingga mengakibatkan cedera. Aurellia sempat melarang ibunya yang ingin mendatangi para senior tersebut.

    "Untuk beberapa kasus kekerasan anak-anak memang begitu. Korban enggak berani melapor karena takut lebih di bully lagi," ujar Retno, Sabtu, 3 Agustus 2019.

    Pada 31 Juli 2019 atau sehari sebelum meninggal, Aurellia menjalani latihan fisik Paskibra yang cukup berat. Sore harinya, Aurellia harus melaksanakan jadwal renang. Ketika pulang ke rumah, dia langsung istirahat. "Tapi tidur dengan kondisi badannya hangat," ujar Retno.

    Orang tua Aurellia tidak membangunkanAurellia dan membawanya ke rumah sakit malam itu walau badannya hangat. 

    Menurut Retno, orang tua menilai Aurellia hanya kelelahan. Namun pada esok harinya, Aurellia jatuh di rumah. "Lalu dibawa ke rumah sakit dan pas dibawa meninggal dunia," kata Retno dalam kasus kematian anggota Paskibra tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.