Derita Pencari Suaka, Satu Nasi Kotak Dimakan Bertiga

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pencari Suaka asal Afghanistan bermain bersama anaknya di pengungsian eks-kodim di Daan Mogot Baru, Jakarta Barat, Kamis, 5 September 2019. Rencananya Pemprov DKI Jakarta akan mengusir paksa para Pencari Suaka tersebut keluar dari pengungsian di gedung eks-kodim, namun pemerintah DKI Jakarta memperpanjang waktu menjadi tiga hari ke depan untuk para pencari suaka menggunakan gedung eks-kodim tersebut untuk tempat istirahat. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Pencari Suaka asal Afghanistan bermain bersama anaknya di pengungsian eks-kodim di Daan Mogot Baru, Jakarta Barat, Kamis, 5 September 2019. Rencananya Pemprov DKI Jakarta akan mengusir paksa para Pencari Suaka tersebut keluar dari pengungsian di gedung eks-kodim, namun pemerintah DKI Jakarta memperpanjang waktu menjadi tiga hari ke depan untuk para pencari suaka menggunakan gedung eks-kodim tersebut untuk tempat istirahat. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Para pencari suaka di bekas Gedung Komando Distrik Militer (Kodim), Perumahan Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat, harus menahan lapar beberapa selama hari ke belakang. Pasalnya mereka tak lagi mendapatkan bantuan makanan dari Badan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pengungsi, UNHCR sejak Jumat, 6 September 2019 lalu.

    Pencari suaka asal Afghanistan, Muhammad Sadiq, menyatakan bahwa sejak sepekan terakhir praktis mereka hanya mengandalkan sumbangan dari warga. Sumbangan terakhir, menurut pria berusia 25 tahun itu, diberikan oleh warga empat hari lalu.

    Makanan yang diberikan warga pun hanya sebanyak 150 kotak, tak sesuai dengan jumlah orang yang berada di sana.

    "Kami di sini hampir 400 orang. Jadi, satu kotak nasi dikonsumsi bertiga,” kata dia saat ditemui di gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu, 11 September 2019.

    Menurut Sadiq, selepas itu para pencari suaka tak lagi mendapat bantuan makanan. Mereka hanya bisa memanfaatkan biskuit dan roti yang diberikan warga untuk makan sehari-hari, sementara bagi yang masih memiliki uang, kata Sadiq, memilih untuk membeli makan di luar.

    “Bantuan air minum masih ada, tapi tidak banyak jumlahnya,” kata pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.

    Selain makan dan minum, bantuan air bersih dan listrik untuk para pencari suaka pun telah tiada. Di gedung eks Kodim tersedia meteran listrik yang dapat diisi dengan token, namun, mereka tak memiliki uang untuk membelinya. Lagi-lagi, kata Sadiq, para pencari suaka mengandalkan bantuan dari donatur yang datang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.