Kekeringan Jakarta, BPBD Tak Batasi Salurkan Air Bersih

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi air bersih. sndimg.com

    Ilustrasi air bersih. sndimg.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat puluhan RT di wilayah Jakarta Utara, Timur, dan Barat mengalami kekeringan akibat tak kunjung turunnya hujan.

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lewat Satuan Tugas (Satgas) Air Bersih telah mendistribusikan bantuan untuk warga di wilayah-wilayah tersebut.

    Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta Iwan Ibrahim menyebut tak ada batasan pemberian bantuan kepada warga. "Pasokan air bersih dihentikan saat situasi sudah normal kembali dan musim kekeringan sudah berakhir," ucap Iwan lewat sambungan telepon, Jumat, 25 Oktober 2019. 

    Iwan menjelaskan, masyarakat yang mengalami kekeringan dapat menghubungi layanan darurat 112. Aduan tersebut nantinya akan diverifikasi terlabih dahulu oleh BPBD ke lurah setempat sebagai penanggung jawab wilayah. Jika daerah yang mengalami kekeringan telah dialiri pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), maka penyaluran air bersih akan diserahkan kepada perusahaan pelat merah tersebut.

    Namun, jika belum, Iwan mengatakan tim satgas yang terdiri dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, Dinas Kominfotik, serta Baznaz DKI Jakarta bersama PDAM dan mitranya akan menyalurkan bantuan air bersih. "Ada Dinas Perhubungan dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk membantu mengamankan saat distribusi," tutur Iwan.

    Iwan mengatakan hingga saat ini Tim Satgas Air Bersih telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 822 ribu liter ke puluhan RT di Jakarta Utara, Timur, dan Barat. Secara keseluruhan, sebanyak 27.796 orang terdampak kekeringan lantaran hujan yang tak kunjung turun lebih dari 60 hari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.