Barang Antik dari Sungai Cisadane, Pemda: Perlu Pembuktian

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdul Azis (baju biru) menunjukkan tiga barang antik yang ditemukannya saat mencari ikan di Sungai Cisadane yang sedang mengering karena kemarau, Minggu 27 Oktober 2019. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO

    Abdul Azis (baju biru) menunjukkan tiga barang antik yang ditemukannya saat mencari ikan di Sungai Cisadane yang sedang mengering karena kemarau, Minggu 27 Oktober 2019. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO

    TEMPO.CO, Tangerang - Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tangerang Achmad Surya Wijaya berjanji segera menindaklanjuti laporan temuan barang antik dari Sungai Cisadane. Penemunya yakin barang-barang memiliki nilai sejarah.

    "Ada beberapa langkah yang harus kami lakukan untuk membuktikan nilai sejarah itu," ujar Surya, Senin 28 Oktober 2019.

    Langkah pertama adalah mengecek ke lokasi temuan yang dijanjikannya segera dilakukan dalam waktu dekat. Kedua, investigasi terhadap benda yang usah ditemukan. Dalam hal ini, Dinas dinyatakannya akan melapor ke Puslitbang Arkeologi Nasional di Jakarta.

    "Terakhir, menindaklanjuti hasil penelitian Puslitbang Arkenas terhadap benda yang diduga cagar budaya (warisan benda)," kata Surya.

    Angkutan penyeberangan tradisional (eretan) antara Bayur Sepatan Kabupaten Tangerang - Sewan Kota Tangerang terjebak dalam sungai Cisadane yang kering, Senin 19 Agustus 2019. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO

    Sebelumnya, Abdul Azis, warga Kampung Kiyai Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, melaporkan temuan sejumlah barang antik yang diduganya bersejarah. Dia mengaku menemukannya tak sengaja saat menangkap ikan di Sungai Cisadane yang tengah mengering karena kemarau. 

    Ada tiga benda atau bentuk yang ditemukannya yakni teko kuning keemasan, benda bulat seperti rebana dari kulit dan logam dengan lapisan emas, dan sebuah benda berbentuk neraca dihiasi tiga patung burung merak berkaki satu. "Tiga benda antik ini saya temukan sekaligus di dasar Sungai Cisadane pada Agustus lalu," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Minggu 27 Oktober 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.