Saksi Ini Urung Jalani Perintah Kivlan Zen untuk Bunuh Wiranto dan Luhut

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Polhukam Wiranto (kiri) berbincang dengan Menko Maritim dan Sumber Daya Luhut Pandjaitan (kanan) sebelum mengikuti acara peluncuran Strategi Nasional Keuangan Inklusif di Istana Negara, Jakarta, 18 November 2016. ANTARA FOTO

    Menko Polhukam Wiranto (kiri) berbincang dengan Menko Maritim dan Sumber Daya Luhut Pandjaitan (kanan) sebelum mengikuti acara peluncuran Strategi Nasional Keuangan Inklusif di Istana Negara, Jakarta, 18 November 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kepemilikan senjata api ilegal, Helmi Kurniawan alias Iwan, mengungkap diperintah oleh Kivlan Zen untuk membunuh Wiranto dan Luhut Binsar Panjaitan. Keduanya adalah purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sekaligus menteri di era pemerintahan presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.

    "Saya diminta untuk melakukan atau gambar Pak Wiranto dan Pak Luhut karena memang ada perintah untuk membunuh Pak Wiranto dan Pak Luhut," kata Iwan saat memberikan kesaksian di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 31 Oktober 2019.

    Kemarin jaksa penuntut umum atau JPU menghadirkan Iwan sebagai saksi memberatkan untuk terdakwa Habil Marati. Habil yang merupakan politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini didakwa sebagai penyedia dana pembelian senjata api ilegal oleh Kivlan.

    Iwan menjelaskan maksud menggambar Wiranto dan Luhut, yakni melakukan pengintaian. Mulanya, papar dia, Kivlan meminta dibelikan senjata api untuk mengantisipasi kebangkitan Partai Komunis Indonesia atau PKI. Dia mengaku percaya pada ucapan seniornya di TNI itu, sehingga mencari senjata api.

    Namun, Iwan urung menjalani perintah Kivlan. Dia beralasan tak sependapat dengan Kivlan soal pembunuhan terhadap dua pejabat itu. "Karena saya tahu pertama untuk PKI tapi begitu kami tahu perintah endingnya untuk Wiranto dan Luhut, maka saya menghindar," ujar dia.

    Selain Wiranto dan Luhut, Kivlan juga memerintahkan agar Iwan mengintai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan serta Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere.

    Rencana pembunuhan empat tokoh ini sebelumnya sudah diungkap Wakil Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi. Penjelasan ini juga yang tertera dalam dakwaan Kivlan Zen. Kivlan terjerat perkara kepemilikan senjata api ilegal, sama seperti Habil dan Iwan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?