Laporkan Konsumen, Kampoeng Kurma Tak Jawab Soal Investasi Bodong

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pohon-pohon kurma tampak mengering di lahan milik PT Kampoeng Kurma di Jalan Raya Assogiri, Tanah Baru, Bogor Utara, Kota Bogor, Kamis 14 November 2019. Di atas lahan itu awalnya ditanami puluhan pohon kurma, tapi kini kondisinya tidak terurus, bahkan puluhan pohon kurma sudah banyak yang mati. Tempo/M Sidik Permana

    Pohon-pohon kurma tampak mengering di lahan milik PT Kampoeng Kurma di Jalan Raya Assogiri, Tanah Baru, Bogor Utara, Kota Bogor, Kamis 14 November 2019. Di atas lahan itu awalnya ditanami puluhan pohon kurma, tapi kini kondisinya tidak terurus, bahkan puluhan pohon kurma sudah banyak yang mati. Tempo/M Sidik Permana

    TEMPO.CO, Bogor - PT Kampoeng Kurma mendorong investor atau konsumennya menempuh jalur hukum jika merasa dirugikan. Perusahaan itu memperingatkan perihal keluhan dan tudingan investasi bodong kaveling kebun kurma. 

    "Kami persilakan dan tidak melarang yang bersangkutan dan konsumen lain menuntut haknya menempuh jalur hukum, dan pihak manajemen selalu kooperatif untuk mencari solusi," kata kuasa hukum PT Kampoeng Kurma, Nusyirwan, saat menggelar keterangan kepada pers di kantornya di Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Selasa 13 November 2019. 

    Nusyirwan menyinggung satu investor yakni Irvan Nasrun yang mengaku telah dirugikan Rp 400 juta. Irvan menuntut uangnya itu kembali setelah Kampoeng Kurma tak kunjung memberinya kejelasan status atas investasi dana tersebut. Terlebih setelah Kampoeng Kurma diketahui tak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

    Terhadap Irvan, Kampoeng Kurma malah akan melaporkannya ke kepolisian. Direksi perusahaan itu tidak terima dituduh sebagai penipu. Tuduhan termuat dalam aplikasi grup percakapan Whatsapp. 

    "Saat ini kami hanya memberikan pernyataan akan menempuh jalur hukum secara pidana dan perdata terhadap Saudara Irvan, sedangkan untuk penjelasan lainnya akan kami sampaikan di waktu selanjutnya," kata Nusyirwan.

    Irvan Nasrun, menanggapi pernyataan itu, mengaku sedih. Dia mengatakan sebagai pihak yang justru tengah berjuang menagih hak. "Dan heran saja karena percakapan itu dilakukan di WA Group yang tertutup dan bukan hanya saya yang tersulut emosi menuntut hak tapi hampir semua anggota grup," kata dia.

    Kuasa hukum PT Kampoeng Kurma, Nusyirwan, saat memberikan keterangan pers di Kantor PT Kampoeng Kurma Group di Jalan Pangeran Assogoro, Tanah Baru, Kota Bogor, Rabu 13 November 2019. Tempo/ M Sidik Permana

    Mustika, 52 tahun, warga Jatinegara, Jakarta Timur, juga mengaku sudah mengeluarkan dana sebesar Rp 85 juta untuk pembelian lahan kaveling yang sama. Tapi hingga saat ini meski sudah lunas belum ada tanda jika lahan akan dibangun perkebunan kurma.

    "Kami masih berharap agar manajemen berniat baik mengembalikan dana seperti yang mereka janjikan saat perundingan," kata Mustika.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo.co, PT Kampoeng Kurma Group menawarkan investasi berupa tanah kaveling seluas 400-500 meter persegi. Setiap kaveling  ditanami lima pohon kurma. Ada juga kaveling kebun ditambah kolam berisi 10 ribu bibit ikan lele.

    Manajemen Kampoeng Kurma menjanjikan hasil besar dengan pengelolaan dan perawatan pohon oleh Kampoeng Kurma selama lima tahun dan pembeli akan dapat bagi hasil secara syariah. Ada lima lokasi yang ditawarkan yang akan dijadikan sebagai perkebunan kurma yakni di wilayah Jonggol, Tanjungsari, Cirebon, Jasinga, dan Cianjur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.