Fenomena Tanah Bergerak di Tangsel, Warga Setu Tak Berani Tidur

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Retakan akibat tanah bergerak di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Foto: Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang

    Retakan akibat tanah bergerak di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Foto: Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Fenomena tanah bergerak kembali terjadi di wilayah Keranggan, Setu, kota Tangerang Selatan. Pergerakan tanah itu membuat enam rumah warga retak pada bagian dinding dan lantai.

    "Ada enam rumah yang mengalami tanah bergerak, kejadiannya hari Jumat siang 15 November 2019 kemarin sekitar pukul 13.00. Tiba- tiba bagian belakang rumah saya ambruk," kata Khodijah, warga kampung Keranggan RT 14 RW 03, kecamatan Setu, Kamis 21 November 2019.

    Khodijah mengatakan sebelum dinding rumahnya ambruk, tembok sempat menggelembung dan akhirnya ambles. Dia menduga fenomena ini karena musim kemarau, sehingga tanah kering dan retak.

    "Kalau siang ya saya di rumah aja sambil waspada tapi kalau malam enggak berani tidur di rumah karena takut ambruk, soalnya lantai bagian belakang dan kamar juga sudah pada bergeser dan retak-retak," ujarnya.

    Selain mengungsi jika malam tiba, Khodijah juga sudah memindahkan perabotan dan peralatan dapurnya ke bagian depan rumah karena takut tertimpa dinding yang ambruk karena tanah bergerak.

    "Kemarin juga sudah ada orang dari pemkot Tangsel yang datang, pak Camat dan pak Lurah juga sudah melihat kondisinya," ungkapnya.

    Sebelumnya pada Mei 2017, fenomena tanah bergerak terjadi di Kampung Sengkol, Muncul, Kecamatan Setu, Tangsel. Lima unit bangunan rumah di RT 004 RW 02 juga mengalami tanah bergerak hingga mengalami longsor.

    MUHAMMAD KURNIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.