Dinas SDA Sebut 10 Pompa Air Terendam Saat Banjir Jakarta

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Dinas PU Tata Air DKI Jakarta memasang pompa untuk menyedot genangan air yang menggenangi Perumahan Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara, 4 Juni 2016. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Petugas Dinas PU Tata Air DKI Jakarta memasang pompa untuk menyedot genangan air yang menggenangi Perumahan Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara, 4 Juni 2016. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta akan mengevaluasi letak 10 titik pompa air stasioner yang terendam saat banjir Jakarta pada tahun baru 2020.

    "Ke depan karena melihat situasi seperti itu, kami harus mengevaluasi dengan meninggikan pompa yang ada. Jadi di lokasi-lokasi yang selama ini kami anggap rawan kami akan tinggikan. Ada beberapa titik saja sih, tidak semuanya, laporan 10 titik," kata Kepala Dinas SDA Juaini Yusuf di Jakarta, Senin petang, 6 Januari 2020.

    Titik-titik tersebut, kata Juaini, antara lain di Teluk Gong, Semanan, Kampung Melayu, Kampung Pulo dan Jati Pinggir dengan jumlah pompa dalam satu rumah pompa bervariasi, antara dua hingga tiga unit.

    Saat ini, Junaini menjelaskan seluruh pompa yang berada di sekitar 140 lokasi dalam keadaan berfungsi. Adapun yang sebelumnya terendam berada di lokasi cukup rendah.

    "Yang kemarin terendam ada beberapa titik, yang kemarin terendam itu yang genangan airnya tinggi-tinggi saja," kata Juaini.

    Jika memaksa pompa bekerja dalam kondisi terendam air, kata Juaini, dapat merusak mesin pompa. Akibatnya, pada saat banjir datang dan merendam pompa, petugas SDA memilih untuk mematikan pompa.

    "Namanya air sudah meluap, tentunya setelah air meluap, masuk ke lokasi pompa kita, kan kami harus lakukan pengamanan juga. Awalnya sudah sedot, ketika airnya masuk, ya kami harus mengamankan pompa. Akhirnya kan pompa terendam, tuh. Kalau pompanya terendam tidak bisa dihidupkan, karena akhirnya jadi merusak pompa," ucap Juaini.

    Selain itu, tambah Juaini, tingginya intensitas hujan membuat sungai menjadi penuh, sehingga air meluap.

    "Curah hujan cukup ekstrem dari 31 Desember 2019 sampai besoknya, dan saat itu sungai-sungai yang ada meluap semua. Ketika sungai meluap, ya saluran-saluran yang ada di kota dalam lingkungan tentu tidak bisa masuk sungai itu. Itulah akhirnya kembali lagi ke lingkungan itu yang menyebabkan terjadinya genangan," ucap Juaini.

    Akibat hujan deras sejak 31 Desember 2019 malam hingga 1 Januari 2020 pagi, banjir terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), hingga ribuan orang harus mengungsi.

    Pemprov DKI menurunkan 120.000 petugas untuk menanggulangi banjir Jakarta. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada hari Senin pukul 18.00 WIB, masih ada tiga RW yang semuanya terletak di Jakarta Barat dengan jumlah pengungsi masih tersisa 824 jiwa di tujuh lokasi pengungsian.

    Masalah pompa air mati ini sempat mengundang polemik karena Gubernur DKI Anies Baswedan mengklaim seluruh pompa air di DKI Jakarta dapat berfungsi dengan baik saat banjir mendera ibu kota pada Rabu 1 Januari 2020. Namun pernyataan Anies itu dibantah oleh anak buahnya sendiri, Wali Kota Jakarta Barat Rustam Effendi.

    Rustam mengakui bahwa pompa air di kawasan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, rusak pada saat banjir Jakarta. Menurut dia, pompa air di sana tak berfungsi karena generator tergenang air dan rusak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.