BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan Februari, Waspada Cuaca Ekstrem

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa puncak musim hujan di wilayah Indonesia akan terjadi pada Februari mendatang.

    "Aliran udara dari Asia melalui Samudera Pasifik sampai Maret. Tetapi aktivitas curah hujan yang diakibatkan itu mulai meningkat pada Januari dan puncak musim hujan pada Februari. Mulai akhir Januari masuk Februari hingga awal Maret," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2019.

    Ia menjelaskan bahwa curah hujan pada Februari secara akumulasi selama satu bulan adalah yang tertinggi dibandingkan dengan bulan lainnya.

    Meski demikian, ia juga memprediksi hujan tidak selalu terjadi setiap hari dan tidak dengan curah hujan dengan intensitas yang sama.

    "Secara kumulatif selama Februari besok itu selama satu bulan curah hujannya diprediksi yang tertinggi meskipun tidak selalu setiap hari itu hujan. Tapi curah hujannya yang tertinggi," katanya.

    Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan hujan dengan intensitas sangat lebat dan ekstrem.

    "Poinnya semua harus tetap kita waspadai karena semakin berlanjut dari Januari sampai masuk Februari kondisi lingkungan kita, kondisi tanah itu sudah jenuh (terhadap, red.) air. Jadi kapasitas untuk menyerap air juga semakin berkurang," katanya.

    Menjelang puncak musim hujan, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalkan kemungkinan dampak yang lebih besar dari hujan lebat, seperti banjir atau tanah longsor. "Karena kondisi tanah sudah jenuh dan saluran-saluran air juga sudah mulai terisi sedimen-sedimen, sehingga tidak harus menunggu hujan yang seperti itu, bisa saja menjadi jenuh air limpasan terjadi ataupun banjir dan longsor," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.