Jakarta Belum Aman, Epidemiolog Peringatkan Potensi Varian Baru Covid-19

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon penumpang menunggu keberangkatan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter rute Jakarta-Bogor di Stasiun Manggarai, Senin, 13 September 2021. Pemerintah memutuskan untuk terus melanjutkan PPKM Level 2-4 di Jawa-Bali hingga 20 September 2021 untuk menekan penyebaran Covid-19. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Calon penumpang menunggu keberangkatan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter rute Jakarta-Bogor di Stasiun Manggarai, Senin, 13 September 2021. Pemerintah memutuskan untuk terus melanjutkan PPKM Level 2-4 di Jawa-Bali hingga 20 September 2021 untuk menekan penyebaran Covid-19. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman memperingatkan potensi munculnya sejumlah varian baru Covid-19 yang lebih berbahaya daripada varian delta. Dia menyarankan masyarakat tak menurunkan tingkat kewaspadaan karena kondisi belum aman. 

    Pakar epidemi itu memperkirakan virus corona SARS-CoV-2 akan terus bermutasi menghasilkan varian baru Covid-19. Contohnya varian C.1.2 yang ditemukan di Afrika Selatan pada Mei lalu.  

    "Varian baru ini berpotensi mengalahkan delta," kata Dicky dalam webinar bertajuk "Waspada Masa Krisis Pandemi COVID-19 Belum Berakhir" di Jakarta Selasa, 14 September 2021. 

    Varian C.1.2 itu, kata Dicky, bisa lebih berbahaya karena semua mutasi dari varian alpha, beta, delta, dan gamma ada di varian 1.2. 

    Dicky memperingatkan pemerintah untuk mencegah masuknya varian baru Covid-19 itu. Di samping itu, pemerintah juga harus mempersiapkan diri hidup berdampingan dengan Covid-19 karena pandemi ini masih terus berlangsung.

    Strategi penerapan PPKM level dianggap sudah tepat, bak penjaga gawang untuk mengendalikan penularan. Epidemiolog itu mengatakan WHO juga tengah menggodok strategi mirip PPKM level 1,2,3 dan 4. 

    "Penerapan PPKM tidak mematikan ekonomi, kecuali kalau level empat diberlakukan," ujarnya.

    Dalam webinar yang sama, Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama mengatakan tidak ada epidemiolog yang bisa memastikan kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. 

    Untuk mempersiapkan warga DKI hidup bersama Covid-19, Dinas Kesehatan DKI akan menggencarkan vaksinasi Covid-19 untuk mencapai herd immunity.   

    Ngabila bahkan mengatakan pemberian vaksinasi Covid-19 untuk anak di bawah umur 12 tahun perlu dilakukan. Dia menyebut dua negara sudah mulai memberikan vaksin Covid-19 untuk anak kecil. 

    Cina, misalnya, sudah memberikan vaksin Covid-19 jenis Sinovac untuk anak berusia 3 tahun. Pemerintah Cile  juga sudah menyuntikkan vaksin Covid-19 untuk anak usia 6 tahun.

    Dinas Kesehatan DKI Jakarta memperingatkan masyarakat Ibu Kota untuk tetap waspada meski kasus Covid saat ini melandai. "Jangan kendor karena Covid-19 masih mengancam," kata Ngabila.

    Baca juga: Epidemiolog Sebut Cara Mencegah Penyebaran Covid-19 Varian Mu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.