Jurus Dinas Cegah Pelecehan Seksual di Sekolah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. outlookindia.com

    Ilustrasi. outlookindia.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto, mengatakan akan menggencarkan program pembinaan non-kurikulum terhadap siswa. Khususnya, yang berkaitan dengan tumbuh kembang seorang remaja.

    Selama ini, Taufik mengakui bahwa pendidikan semacam ini masih belum maksimal. "Makanya banyak juga kenakalan remaja," kata Taufik ketika dihubungi pada Jumat, 13 Desember 2013.

    Menurut Taufik, kenakalan remaja seperti pelecehan lebih banyak disebabkan faktor eksternal. Derasnya informasi yang bisa diakses seorang siswa kemudian pergaulan dengan lingkungan pertemanan bisa menjadi pemicu.

    "Ada laporan siswa nakal padahal kata orang tuanya di rumah diam atau sebaliknya di sekolah diam tapi di luar nakal," ujarnya. Hal-hal semacam ini yang kerap luput dari pengamatan guru.

    Sehingga, Taufik meminta agar guru membangun hubungan yang tak sekadar dengan belajar mengajar. Tapi ada kesan bagi si murid bahwa guru ini adalah orang tua kedua. Guru pun diminta untuk lebih mengenali bagaimana karakteristik tiap peserta didik.

    Kejahatan seksual yang dilakukan pelajar di lingkungan sekolah menunjukan kecenderungan yang meningkat. Komnas Perlindungan Anak menilai kecenderungan ini semakin mengkhawatirkan.

    Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait, mengatakan selama 2013, ada 1.446 kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak yang 28 persennya dilakukan di lingkungan sekolah. Meningkat dari tahun 2012 yang sekitar 18 persen.

    SYAILENDRA / AMIRULLAH

    Baca juga:
    Aset Melimpah dan Rumah Mewah Hercules

    Modus Hercules Memeras dan Mencuci Uang

    Pemilik Vila Bayar Massa Penolak Pembongkaran?

    Jejak Onar Hercules di Ibu Kota


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.