Cara Ahok Berantas Permukiman Liar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memberikan keterangan kepada wartawan terkait majunya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi maju sebagai calon Presiden pada pemilu 2014 di Balaikota, Jakarta Pusat, Jakarta (14/3). Dalam keterangannya Ahok menyatakan siap menggantikan posisi Gubernur dan mendukung pencalonan Jokowi sebagai presiden dari partai PDI-P. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memberikan keterangan kepada wartawan terkait majunya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi maju sebagai calon Presiden pada pemilu 2014 di Balaikota, Jakarta Pusat, Jakarta (14/3). Dalam keterangannya Ahok menyatakan siap menggantikan posisi Gubernur dan mendukung pencalonan Jokowi sebagai presiden dari partai PDI-P. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan akan terus memberantas permukiman liar di Ibu Kota. "Kami jalan terus, kok. Hajar terus sampai bersih," kata pria yang akrab disapa Ahok itu di kantornya, Selasa, 5 Juli 2014. Menurut dia, masalah penertiban ini bukanlah hal sulit.

    "Permukiman liar di pinggir kali atau pinggir rel itu kan diisi penyewa," ujar Ahok. Jadi, kalaupun digusur, para penyewa yang rata-rata pendatang dari luar ke Jakarta akan pindah ke tempat lain atau pulang kampung. Adapun warga Jakarta yang rumahnya tergusur akan dipindahkan ke rumah susun. "Kan sudah terbukti di beberapa lokasi model semacam ini berhasil. Kami tetap pakai cara itu." (Baca: Cara Ahok Halau Pendatang ke Jakarta)

    Sejak awal Juli 2014, Pemprov DKI Jakarta mengintensifkan pembongkaran permukiman liar di semua wilayah. Beberapa titik permukiman liar yang telah digusur misalnya kawasan Bongkaran, Tanah Abang, sepanjang bantaran Kanal Banjir Barat, serta pinggir rel di kawasan Tanah Abang. Pada 6 Agustus mendatang, pemerintah berencana kembali meneruskan pembongkaran di sejumlah titik. "Yang di kawasan bongkaran dan pinggir rel Tanah Abang kita teruskan. Setelah selesai, pindah ke tempat lain." (Baca: Konsep Surat Perjanjian Pendatang di DKI Tak Jelas)

    Meski telah ada pembongkaran, gubuk liar di beberapa titik kembali muncul. Keberadaan gubuk-gubuk semacam itu disebabkan oleh banyaknya pendatang tanpa modal yang tiba di Jakarta saat musim Lebaran.

    Ahok pun memiliki solusi untuk mengantisipasi kembali menjamurnya permukiman liar. "Jadi, lahan yang sudah kami bongkar itu langsung dibikin jalan atau taman," tuturnya. Sebagai contoh, ujar dia, nanti di sepanjang bantaran Kanal Banjir Barat akan dibangun jalan inspeksi, dari Jakarta Pusat hingga Jakarta Utara. "Kalau sudah dibikin jalan, masak mau dibikin rumah lagi." (Baca: Usai Lebaran, Pendatang ke DKI Meningkat 30 Persen)

    Selama ini, kata dia, banyak program penertiban bangunan liar yang tak berhasil karena setelah dibongkar lahan yang kosong dibiarkan begitu saja. Sama seperti pinggir sungai, Ahok juga mengaku akan menjadikan lahan eks-permukiman liar di sepanjang rel kereta di Ibu Kota sebagai jalan. "Nanti di pinggir rel ada jalan. PT KAI juga bisa memanfaatkan jalan itu untuk membangun shelter kereta." (Baca: Ahok Tak Gelar Operasi Yustisi Usai Lebaran)

    PRAGA UTAMA

    Berita Lainnya:
    Kebun Raya Batam Dibangun Bulan Ini
    Deklarasi ISIS di Malang, Bupati:Tidak Kecolongan
    10 Ribu Pendukung Prabowo Diklaim Bakal Datangi MK
    Antisipasi ISIS, Polisi Gandeng Tokoh Agama


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.