Djarot 'Ultimatum' Wali Kota Jakarta Pusat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubenur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat, menyerahkan alat kebersihan kepada warga di bantaran kali ciliwung, Pasar Minggu, Jakarta, Minggu 21 Desember 2014. Blusukan Djarot Syaiful Hidayat tersebut merupakan perdana setelah dilantiknya menjadi Wakil Gubenur dengan meninjau beberapa lokasi dibantaran kali ciliwung untuk melihat kesiapan warga menghadapi banjir. TEMPO/Dasril Roszandi

    Wakil Gubenur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat, menyerahkan alat kebersihan kepada warga di bantaran kali ciliwung, Pasar Minggu, Jakarta, Minggu 21 Desember 2014. Blusukan Djarot Syaiful Hidayat tersebut merupakan perdana setelah dilantiknya menjadi Wakil Gubenur dengan meninjau beberapa lokasi dibantaran kali ciliwung untuk melihat kesiapan warga menghadapi banjir. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat memotivasi para pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah DKI agar bekerja dengan giat saat melakukan kunjungan kerja ke kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Kamis, 8 Januari 2015. Wali Kota Jakarta Pusat yang baru menjabat enam hari, Mangara Pardede, juga diberi motivasi. Dalam kunjungan itu, Djarot membawa rombongan. Salah satunya anggotanya ialah Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah.

    Djarot mengatakan Mangara tidak bisa berbohong tentang keadaan di Jakarta Pusat. Sebab, Saefullah merupakan wali kota sebelum Mangara. "Saya 'ultimatum' Pak Mangara. Bapak enggak bisa berbohong. Jalanan berlubang saja saya bisa tahu dari Pak Saefullah," katanya, Kamis, 8 Januari 2014. Mendengar penjelasan itu, para pejabat yang hadir pun tertawa.

    Djarot mengatakan Jakarta Pusat merupakan kota penting karena merupakan ring utama Indonesia. Dan, kalau ada kejadian di wilayah ini, seluruh Indonesia bisa tahu.

    Itu sebabnya dia menginginkan pemerintah Jakarta Pusat berfokus pada lima hal. Pertama, tertib hunian. "Jangan ada lagi membiarkan permukian liar," kata Djarot. Selama ini, lurah, camat, dan wali kota, kata dia, melakukan pembiaran, sehingga menyebabkan banyaknya pemukim liar. "Pas dipindahkan, ngamuk."

    Jakarta, Djarot melanjutkan, juga menjadi penyebab macet dan banjir. Sebab, tata ruangnya semrawut dan birokratnya terbiasa menjual izin tata ruang. "Lihat saja, banyak mal, apartemen, tapi ruang terbukanya sedikit," katanya.

    Kedua, tertib buang sampah. "Jangan biarkan masyarakat seenaknya membuang sampah." Ketiga, kata Djarot, tertib pedagang kaki lima. "Jangan ada lagi perangkat pemerintah yang memperbolehkan pedagang jualan karena menerima uang."

    Keempat, tertib lalu lintas. Djarot meminta Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat dan kepolisian bekerja sama. Dia juga meminta tidak ada lagi pihak yang menjebak pengguna kendaraan di jalan. "Saya pernah dijebak," katanya.

    Kelima, tertib anggaran. Pada 2014, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta hanya terserap 61 persen. Djarot meminta anggaran pada 2015 terserap 100 persen. "Pejabat jangan lagi pandai membuat program, tapi tidak bisa eksekusi." (Baca juga: PKL Beri Amplop Lurah Susan, Apa Reaksinya?)

    HUSSEIN ABRI YUSUF



    Berita Lainnya:
    'Pembalasan Nabi', Penyerang Charlie Hebdo Terekam  
    Analisis BMKG Soal Mesin Air Asia Beku Keliru
    Bill Gates Minum Air Olahan dari Kotoran Manusia
    PKL Beri Amplop Lurah Susan, Apa Reaksinya? 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.