Ahok dan Lulung, Siapa Lebih Beruntung di Twitter?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahok (kanan) berbincang dengan Lulung Lunggana saat bertemu dalam acara Lebaran Betawi di Monas, Jakarta, 14 September 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    Ahok (kanan) berbincang dengan Lulung Lunggana saat bertemu dalam acara Lebaran Betawi di Monas, Jakarta, 14 September 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Politica Wave Yose Rizal mengatakan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta Abraham "Lulung" Lunggana bisa memanfaatkan popularitasnya di sosial media untuk memperkuat modal politik dan ketokohannya. Menurut dia, perisakan terhadap Lulung di jejaring sosial Twitter memberi keuntungan bagi politikus Partai Persatuan Pembangunan itu.

    Yose Rizal menjelaskan apabila Lulung bisa menjawab perisakan di sosial media dengan kinerjanya, maka bukan tak mungkin masyarakat malah akan balik mendukungnya.

    "Sebagai politikus tentu secara tak langsung Lulung mendapatkan bonus. Yang penting ialah dia bisa tidak memanfaatkannya," kata Yose ketika dihubungi Tempo, Selasa, 17 Maret 2015.

    Lantas, bagaimana dengan posisi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Twitter? Yose berujar Ahok justru semakin memperoleh modal politik yang kuat dengan adanya kisruh anggaran di Jakarta, yang juga melibatkan Lulung. Sebab, kata Yose, banyak netizen yang mendukung Ahok.

    "Dukungan bagi Ahok bisa dilihat dari netizen yang menggagas tagar #saveahok di Twitter," ucapnya.

    Adapun berdasarkan analisis dari Topsy, Twitter Search, Monitoring, and Analytics, sejak 14 Februari hingga 16 Maret 2015, penduduk dunia maya atau netizen banyak membicarakan Ahok dan Lulung. Selama satu bulan, nama Ahok menjadi pembicaraan hingga 914.462 netizen, sedangkan Lulung dibicarakan oleh 384.749 penduduk sosial media.

    Pengguna Twitter yang membicarakan Lulung kemudian membuat tagar #savehajilulung dan #lulungeffect sebagai bentuk sindiran terhadap politikus Partai Persatuan Pembangunan itu.

    GANGSAR PARIKESIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.