Ahok Jamin Jalan Layang Tendean-Ciledug Khusus Transjakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berbincang dengan pedagang pakaian saat meninjau salah satu kios di Blok G, Pasar Tanah Abang, Jakarta, 15 April 2015. Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau realisasi rencana pembangunan jembatan penghubung menuju Blok G Pasar Tanah Abang agar ramai pengunjung. Tempo/M IQBAL ICHSAN

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berbincang dengan pedagang pakaian saat meninjau salah satu kios di Blok G, Pasar Tanah Abang, Jakarta, 15 April 2015. Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau realisasi rencana pembangunan jembatan penghubung menuju Blok G Pasar Tanah Abang agar ramai pengunjung. Tempo/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan jalan layang Tendean-Ciledug khusus dioperasikan bagi bus Transjakarta. Ahok, sapaan Basuki, berujar jalan itu akan terintegrasi dengan jalur di bawahnya yang digunakan oleh bus sedang seperti Metromini dan Kopaja.

    "Khusus Transjakarta kok," kata Ahok di Balai Kota, Jumat, 17 April 2015.

    Pernyataan tersebut menanggapi keraguan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengenai peruntukan jalan tersebut. Institusi itu mengkhawatirkan bahwa Pemerintah DKI Jakarta akan mengizinkan kendaraan roda empat melintas di jalan tersebut.

    Pembangunan jalan layang Tendean-Ciledug sepanjang 9,3 kilometer resmi dimulai pada awal Maret 2015. Proyek dengan pagu anggaran Rp 2,5 triliun ini akan rampung dalam waktu dua tahun. Pemerintah DKI menargetkan bus Transjakarta bisa beroperasi di jalan layang itu pada Agustus 2016.

    Menurut Ahok, ide integrasi tersebut justru muncul dari ITDP. Ahok mempertanyakan kekhawatiran institusi tersebut lantaran proyek pembangunan jalan yang dipermasalahkan justru baru dimulai. Selain itu, ITDP juga kerap memberikan masukan ke Pemerintah DKI Jakarta berdasarkan pengalaman negara lain.

    Ahok berujar ide tersebut belum tentu bisa diterapkan di Jakarta. Alasannya, tabiat dan kebiasaan para sopir bus di Ibu Kota berbeda dengan sopir di negara lain.

    Di luar tujuan pengoperasiannya, Ahok mengatakan Jakarta tetap membutuhkan jalan layang tersebut. Peningkatan jumlah kendaraan sebanyak 9 persen per tahun tidak sebanding dengan peningkatan rasio jalan yang cuma 0,01 persen tiap tahunnya. "Anda mengkritik soal pembangun jalan, tak ada jalan juga lebih repot kan?" ujar Ahok.

    LINDA HAIRANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.