Maju Pilkada Melawan Ahok, Kata Risma Tergantung Mega

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Megawati dalam acara peluncuran bukunya yang bertajuk

    Megawati dalam acara peluncuran bukunya yang bertajuk "Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis & Tertawa Bersama Rakyat" di gedung Arsip Nasional, Jakarta, 23 Maret 2016. Megawati merupakan presiden RI kelima dan sekaligus menjadi presiden wanita pertama di Indonesia. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan kepastian dirinya maju di Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 sepenuhnya wewenang Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

    Meski begitu, Risma tak mau berandai-andai bagaimana jika Megawati memutuskan dia ke Jakarta untuk mengalahkan calon gubernur petahanan, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. “Nanti kita lihat, saya tidak bisa, saya akan ketemu menghadap beliau pasti ada pembicaraan, pasti ada solusi dari ibu,” katanya kepada Tempo ketika meninjau Proyek Box Culvert di Kenjeran Surabaya pada Jumat, 5 Agustus 2016.

    Risma tak menyebutkan kapan dijadwalkan dia akan bertemu Megawati. Yang pasti dia akan ditemani Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana, yang juga Ketua PDIP Surabaya.

    Menurut Risma, dia akan kembali menyampaikan bahwa sudah berjanji kepada warga Surabaya untuk memimpin kota itu hingga akhir masa jabatan yakni 2020. “Saya yakin Ibu sangat rasional.”


    Baca
    Panasnya Pilgub DKI: 4 Amunisi Risma yang Bisa Kalahkan Ahok

    Nama Risma semakin moncer di Jakarta menjelang Pilkada pada Fabruari 2017. Deklarasi dukungan muncul hampir tiap hari. Spanduk-spanduk dukungan juga bertebaran di sejumlah wilayah di ibukota. Hasil sejumlah survei menunjukkan elektabilitas Risma menempel ketat Ahok. Padahal, Risma belum melakukan kampanye. Bahkan, dia selalu menyatakan tak ingin mengikuti Pilkada Jakarta karena sudah kadung janji dengan warga Surabaya untuk memimpin hingga akhir masa jabatan pada 2020.

    Ahok yang semula gambar-gembor akan maju via jalur perseorangan belakangan berubah lewat partai politik. Dia pun sudah menemui Megawati untuk memohon dukungan. Partai Pemenang Pemilu 2014 itu balik meminta Ahok mengikuti mekanisme yakni menjadi kader partai berlambang banteng gemuk bermoncong putih itu. Namun, Ahok menolak. Di sisi lain, dia meminta tiga partai pendukungnya --- Partai NasDem, Hanura, dan Golongan Karya --- melobi Mega agar mau bersama-sama mendukung Ahok dalam pemilihan gubernur nanti.

    PDIP Jakarta tegas menyatakan menolak Ahok. Dan nama Risma masuk dalam daftar pendek calon yang digadang-gadang PDIP.

    BacaBegini Jawaban Mega kepada Ahok Soal Jalur Partai

    Risma lantas menerangkan, dia berprinsip bahwa jabatan adalah amanah sehingga jabatan tidak boleh diminta. Maka dia belum salat istiqarah untuk meminta petunjuk Tuhan, sebab jika dijalankan artinya dirinya mempunyai keinginan. “Kalau tiba-tiba di situ (pada saat salat istiqarah) ada nafsu kemudian datang setan, itu bahaya sekali,” ujar Risma.

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Kasus Peretasan, dari Rocky Gerung hingga Pandu Riono

    Peretasan merupakan hal yang dilarang oleh UU ITE. Namun sejumlah tokoh sempat jadi korban kasus peretasan, seperti Rocky Gerung dan Pandu Riono.