Ahok Curhat: Di Balik Ketenaran Ada Kepedihan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menerima kedatangan siswa-siswi pertukaran pelajar daerah dari komunitas Anak Sabang Merauke. Belasan anak diterima Ahok, sapaan Basuki, di Balai Agung serta diizinkan bertanya apa pun tentang orang nomor satu di DKI itu. Salah seorang siswa meminta Ahok membeberkan dukanya selama menjadi gubernur.

    Tanpa pikir panjang, Ahok menjawab pertanyaan itu dengan mengutip pepatah kuno milik Konfusius, filsuf asal Cina. “Di balik ketenaran memang ada kepedihan,” kata Ahok, Selasa, 11 Agustus 2015.

    Baca: Ahok: Pendapatan DKI Raib Rp 1 Triliun, Siapa Untung?

    Jawaban itu membuat sebagian siswa mengernyitkan dahi. Bergegas Ahok menjelaskan maksud jawabannya itu. “Seakan hidup saya sudah bukan untuk saya sendiri, tapi sudah milik rakyat,” dia berujar.

    Menurut dia, menjadi gubernur membuatnya tak lagi bebas menikmati waktu rekreasi dan berbelanja di tempat umum tanpa dikenali oleh masyarakat. Bahkan untuk sekadar minum kopi di gerai dengan suasana santai sudah dianggapnya kesempatan yang istimewa. “Kalau saya minum kopi di mal sebentar saja sudah ada yang mengenali, mengajak salaman, lalu minta foto. Enggak jadi minum kopi, deh,” cerita Ahok.

    Simak: Ahok Curhat: Di Balik Ketenaran Ada Kepedihan

    Pria 49 tahun itu lantas berkelakar bahwa pernah terbersit ide untuk jalan-jalan ke mal dengan menyamar. Dia berencana memakai kumis palsu untuk mengubah penampilannya. Namun Ahok mengaku kerepotan dan tak bisa menahan malu seandainya warga memergoki dia mengubah penampilan. “Wajah saya sudah berubah, tapi suara saya tetap saja khas seperti ini, sehingga mudah dikenali,” kata Ahok merujuk karakter suaranya yang tebal sekaligus serak itu.

    Baca Juga: Hayriantira XL Tewas: Polisi Penasaran,Andi Dites Kebohongan

    Mendengar penjelasan Ahok, siswa-siswa itu tertawa. Namun dia juga mendorong para pemuda untuk tak takut menjadi pejabat meski waktu untuk kegiatan pribadi tersita. Alasan Ahok, menjadi pejabat merupakan satu-satunya cara untuk menolong orang lepas dari jerat kemiskinan. “Semangat itu yang selalu saya bawa sejak dari kampung hingga jadi Gubernur DKI,” Ahok menjelaskan.

    RAYMUNDUS RIKANG

    Berita Menarik
    Ahok 'Kepala Preman' Baru, Ini Nasib Anggota FBR
    Ini 3 Bukti Kuat Andi Rancang Skenario Habisi Hayriantira XL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.