20 Tahun Reformasi, Kisah Slipi Jaya dan Dalih Pojokkan Mahasiswa

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kerusuhan dan penjarahan di pusat perbelanjaan di Jakarta, 13 Mei 1998 lalu. dok.TEMPO/Rully Kesuma

    Suasana kerusuhan dan penjarahan di pusat perbelanjaan di Jakarta, 13 Mei 1998 lalu. dok.TEMPO/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta -Telah dua dekade gedung Plaza Slipi Jaya jadi saksi bisu 20 Tahun Reformasi. Suasana Plaza Slipi Jaya begitu ramai oleh pengunjung pada Sabtu12 Mei 2018. Di lantai dasar pusat perbelanjaan lagi ada pameran otomotif. 

    Sekitar pukul 17.00 terlihat tiga orang mengetes alat musik di antara stand pameran. Mereka yakni Daniel (vokalis gitaris) Aldo (pemain cajon) dan Steven (basis). “Kami sebenarnya tidak punya nama resmi untuk pas main musik,” kata Daniel.

    Penampilan mereka cukup menghibur pengunjung yang lalu lalang. Terlihat beberapa orang berhenti sejenak. Kadang ada yang ikut melantun lirik lagu yang dinyanyikan Daniel.

    Baca : 20 Tahun Reformasi, Cerita Yogya Plaza dan Korban Kerusuhan Mei

    Pengunjung Slipi Jaya Maemmunah mengatakan rutin membawa anak-anaknya untuk liburan ke mall. Setiap bulan pasti ajak ke pusat permainan Funcity di Lantai tiga. “Biar anak-anak bisa refreshing.”

     

    Karyawan salah satu bank swasta tidak mengetahui apa yang terjadi di Gedung berlantai empat ini pada 20 tahun lalu. Kalau reformasi tahun 1998 pasti tahu peristiwanya. “Paling penembakan mahasiswa Trisakti,” ujarnya.

    Berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, pada 13 Mei puluhan pemuda diturunkan di daerah Slipi, Jakarta Barat. Sekitar pukul 13.00-15.00 mereka melakukan perusakan dan penjarahan. Gerombolan itu kemudian menyiramkan bensin ke lantai dan membakar Plaza Slipi Jaya.

     

    Direktur Amnesty International Usman Hamid menyampaikan bahwa sehari pasca penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti. Korban yang tewas yakni 

    Hendriawan Sie Hafidhin Royan, Elang Mulia Lesmana, dan Heri Hartanto. “Saya lihat pembakaran truk di bawah flyover Grogol” ujar Usman yang saat menjadi mahasiswa semester enam di Universitas Trisakti.

     

    Kerumunan orang itu kata dia terus memanggil mahasiswa untuk ke luar dan bergabung dengan mereka. Banyak orang yang tidak jelas yang terus meminta kami meninggalkan kampus. “Itu insiden pembakaran pertama kerusuhan“ tuturnya.

    Foto korban kerusuhan Mei 1998 yang ditaburi bunga dalam acara Tabur Bunga dan Doa Bersama dalam Peringatan 20 Tahun Reformasi di halaman Mall Klender, Jakarta Timur, 13 Mei 2018. Mall Klender merupakan salah satu lokasi yang menelan banyak korban jiwa saat terjadinya aksi memperjuangkan reformasi pada Mei 1998. TEMPO/Fardi Bestari

     

    Menurut mantan Kordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) para dalang Tragedi Mei itu sengaja memilih areal dekat Trisakti sebagai titik pemicu kerusuhan. Bagian dari cara menyudutkan sikap mahasiwa yang memilih aksi ke luar kampus. 

    Simak juga : Cerita Pemerkosaan, Kisah yang Lenyap dari Tragedi Mei 1998

    “Kerusuhan diciptakan untuk membenarkan alasan penguasa ketika itu yang melarang mahasiswa ke luar kampus.”

     

    Penguasa kata Usman Hamid mencoba membentuk opini bahwa kerusuhan akibat dari mahasiswa ke luar kampus. Pancingan itu gagal karena mahasiswa tetap berhasil menahan diri dengan tetap aksi damai hingga menduduki gedung DPR/MPR. “Kerusuhan itu sendiri berjalan sendiri terpisah dari gerakan mahasiswa” demikian Usman Hamid tentang momentum 20 Tahun Reformasi tersebut.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.