Selasa, 23 Oktober 2018

Pembangunan MRT Jakarta Fase Pertama Telah Mencapai 94,6 Persen

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana proyek stasiun bawah tanah MRT Jakarta fase I di stasiun Senayan, Jakarta, Senin, 11 Juni 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Suasana proyek stasiun bawah tanah MRT Jakarta fase I di stasiun Senayan, Jakarta, Senin, 11 Juni 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta William P. Sabanda mengatakan proses pembangunan MRT fase pertama koridor Selatan-Utara saat ini telah mencapai 94,6 persen. "Kami sedang mempersiapkan untuk beroperasi secara komersil pada Maret 2019," kata William di Hall C1, Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Juni 2018. 

    Fase pertama itu terdiri dari 13 stasiun. Tujuh di antaranya adalah stasiun layang yang berada di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sedangkan stasiun bawah tanah berada di Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.

    William mengatakan jarak antara stasiun berkisar antara 0,8-2,2 kilometer dengan jarak tempuh dari Lebak Bulus-Bundaran HI selama 30 menit. "Kalau naik kendaraan itu biasanya sampai 1,5 jam," ujar dia.

    Rencananya ada 16 rangkaian kereta MRT yang akan beroperasi nanti. Saat ini baru 2 rangkaian yang telah tiba di Depo MRT Lebak Bulus. Sisanya akan dikirim dalam rentang waktu Agustus-November 2018.

    Dua rangkaian tersebut, kata William, mulai diuji coba pada Agustus mendatang. Kemudian, pada Desember PT MRT akan mengadakan uji coba keseluruhan rangkaian sebagai bentuk persiapan.

    William menjelaskan, satu rangkaian kereta terdiri dari enam gerbong, di mana masing-masing dapat mengangkut 325 orang penumpang dengan waktu operasi mulai dari pukul 05.00-00.00 WIB.

    "Totalnya ada sekitar 1.950 orang yang bisa diangkut setiap perjalanan, dengan jeda perjalanan setiap lima menit. Jadi setiap lima menit itu kereta akan datang," ucap William. "Bayangkan saja tiap lima menit mengangkut 1.950 orang."

    PT MRT telah memastikan penandatanganan perjanjian pinjaman proyek moda raya terpadu fase kedua sebesar Rp 25,10 triliun dilakukan pada bulan ini. William mengatakan mundurnya penandatanganan perjanjian pinjaman disebabkan persoalan administrasi dan terpotong libur Lebaran. 

    Sebelumnya, PT MRT Jakarta mendapat persetujuan dari DPRD DKI Jakarta untuk memperoleh pinjaman proyek sebesar Rp 25,10 triliun sejak Agustus 2017. Setelah itu, proses penganggaran dilakukan oleh Kementerian Keuangan dan Japan International Cooperation Agency (JICA).

    Nantinya, pinjaman tersebut akan digunakan untuk pembangunan MRT Jakarta fase kedua dan Rp 2,56 triliun untuk biaya variations order dan penyesuaian harga fase pertama. Biaya tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan pembangunan pada fase pertama sebesar Rp 16 triliun, karena dalam pengerjaan proyek fase kedua lebih banyak konstruksi bawah tanah meskipun panjang jalur lebih pendek.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.