Sepekan Buron, Pelaku Penjambretan Maut Menyerahkan Diri

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sumiyati, tetangga Warsilah korban penjambretan di Cempaka Putih, saat ditemui di depan kontrakan korban di Cipinang, Jakarta Timur, Selasa, 3 Juli 2018. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    Sumiyati, tetangga Warsilah korban penjambretan di Cempaka Putih, saat ditemui di depan kontrakan korban di Cipinang, Jakarta Timur, Selasa, 3 Juli 2018. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku penjambretan di Cempaka Putih yang menyebabkan korbannya tewas, Sandi Haryanto, 26 tahun, menyerahkan diri setelah sepekan diburu polisi. Sandi menyerahkan diri ke Kepolisian Sektor Jagakarsa pada Ahad, 8 Juli 2018.

    Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Stefanus Tamuntuan mengatakan pelaku menyerahkan diri kemarin sekitar pukul 16.30.

    Baca: Operasi Jambret dan Begal, Suami Istri Ini Ikut Dijaring

    "Pelaku diantar pamannya untuk menyerahkan diri," kata Stefanus, Ahad, 8 Juli 2018. 

    Sandi menjambret tas milik penumpang ojek online di depan Gudang Garam, Jalan Ahmad Yani, Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, Ahad, 1 Juli 2018.

    Baca: Videonya Viral, Pelaku Penjambretan Maut Ditinggal Kelompoknya

    Akibat ulahnya, penumpang ojek online bernama Warsilah, 37 tahun, tewas. Korban terpelanting dari motor karena berusaha mempertahankan tasnya yang ditarik pelaku penjambretan.

    Stefanus mengatakan polisi telah mengetahui persembunyian Sandi di wilayah Jakarta Selatan setelah menggerebek rumah pelaku di kawasan Cakung, Jakarta Timur. "Saat digerebek, pelaku tidak ditemukan," ujarnya.

    Baca: Cerita Seorang Begal Remaja Dibekuk Korbannya di Cikarang Selatan

    Polisi pun terus melakukan penyelidikan dan pelaku penjambretan terdeteksi berada di Jagakarsa, Jakarta Selatan. "Sebelum dilakukan penangkapan, pelaku sudah menyerahkan diri."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.