Jumat, 16 November 2018

Tim SAR Berhasil Angkat Roda dan Turbin Lion Air JT 610

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ban dan mesin turbin pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, saat dijejerkan di Posko Taktis JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Ahad, 4 Oktober 2018. Tempo/Adam Prireza

    Ban dan mesin turbin pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, saat dijejerkan di Posko Taktis JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Ahad, 4 Oktober 2018. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim SAR gabungan telah mengangkat bagian mesin turbin dan roda pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Komandan Satuan Kapal Amfibi Koarmada I Kolonel Bambang Trijanto menyebut tim menemukan dua objek itu Sabtu sore lalu.

    “Ditemukan sekitar pukul 16.40 WIB,” kata Bambang di Posko Taktis JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Ahad, 4 Oktober 2018.

    Simak juga : 
    Pencarian Kotak Hitam Lion Air JT 610, Basarnas: Ping Locater Berbunyi

    Bambang menjelaskan, mesin turbin dan roda itu ditemukan pada kedalaman 32 meter. Tim SAR  menggunakan kompresor udara bertekanan tinggi serta balon udara untuk mengangkat bagian pesawat Lion Air itu. “Balon udara untuk mengapungkan benda berat, kami ikat di turbin,” kata Bambang.

    Kapal Baruna Jaya 1 yang memiliki crane di buritan, kemudian mengangkat turbin ke atas Landing Craft Utility (LCU) milik KRI Banda Aceh. Kapal itu lah yang membawa turbin beserta ban ke Posko Taktis JICT II.

    Baca : Psikolog: Keluarga Korban Lion Air JT 610 Butuh Sekali Teman

    Pesawat Lion Air JT 610 dengan nomor registrasi PK-LQP itu jatuh di perairan Tanjung Karawang, pada Senin, 29 Oktober 2018. Pesawat jenis Boeing 737 Max8 itu hilang kontak pada pukul 06.32 WIB, atau sekitar 12 menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.