Polisi Tembak Polisi di Depok: Berawal dari Lapangan Sanca

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Penembakan Polisi. ANTARA FOTO/Ampelsa

    Ilustrasi Penembakan Polisi. ANTARA FOTO/Ampelsa

    TEMPO.CO, Depok - Kasus polisi tembak polisi di Kota Depok pada Kamis 25 Juli 2019 menjadi sorotan. Kasus ini berawal dari penangkapan F, 16 tahun, karena dugaan hendak tawuran. Remaja itu ditangkap dengan barang bukti sebilah celurit.

    Budi Karijono, 55 tahun, paman F, menuturkan kalau F diduga terlibat tawuran dengan warga di sekitar Lapangan Sanca, Sukamaju Baru, Tapos. Budi mengetahui kabar penangkapan F dari tetangganya yang menghubungi lewat telepon genggamnya.

    Ia kaget mendengar informasi itu dan langsung mengabarkan orang tua F, Zulkarnaen, yang juga tetangga rumahnya di  RT 4 RW 3 Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Kota Depok. "Saya sama orang tuanya F langsung ke Lapangan Sanca," ucapnya saat ditemui di rumahnya, Sabtu 27 Juli 2019.

    Tiba di Lapangan Sanca, Budi dan Zulkarnaen hanya mendapati sepeda motor F. Menurut keterangan warga di sana, pemilik motor telah ditangkap dan dibawa ke Polsek Cimanggis.

    Budi pun langsung meminta Zulkarnaen bergegas menyusul anaknya yang dibawa ke Polsek Cimanggis. Sedangkan, Budi menyusul setelah mendapatkan bantuan dari warga untuk membawa motor Fachrul yang tertinggal.

    Setelah ada warga yang mau menolong membawakan motor keponakannya, Budi langsung menuju Polsek Cimanggis. Di sana, Budi melihat F bersimpuh dan meminta maaf kepada orang tuanya. Sekitar 10 menit ada di dalam ruang SPKT Polsek Cimanggis, Budi pun ke luar ruangan.

    Saat melangkah keluar ruangan, Budi bersirobok dengan Rangga yang baru datang dan mau masuk ke dalam ruang SPKT. Rangga masih terhitung kerabat Budi dan Zulkarnaen. Rangga juga tinggal di permukiman yang sama dengan keduanya.

    Rumah Brigadir Rangga Tianto di kawasan RT4 RW3 Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Depok, 27 Juli 2019. Rangga ditetapkan sebagai tersangka penembakan Bripka Rahmat Efendy, hingga tewas di kantor Polsek Cimanggis dalam kasus polisi tembak polisi. TEMPO/Imam Hamdi

    Budi mengaku tidak masuk kembali ke ruangan itu, karena yakin masalah akan diselesaikan secara kekeluargaan. "Saya tidak masuk karena masalahnya saya anggap akan diselesaikan antara polisi dengan polisi," ujarnya tentang kehadiran Rangga.

    Sekitar 15 menit berada di luar ruangan, Budi mendengar bunyi letusan senjata. Ia pun langsung menolehkan kepala ke sumber bunyi. Budi melihat dari balik kaca, Rangga menembak Rahmat.

    "Saya tidak bisa bergerak. Kaki saya terasa lemas semua," ujarnya. "Saya lihat senjatanya mengeluarkan percikan kayak kembang api."

    Kaki Budi masih terasa membatu. Ia bertanya kepada polisi di dekatnya terkait kejadian polisi tembak polisi tersebut. "Polisi di dekat saya menyarankan saya pulang. Dan saya menuruti saran polisi untuk pulang," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.