Cerita Korban Penipuan Rumah Syariah, Uang DP Tak Kunjung Kembali

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor PT Wepro, pengembang syariah yang menipu 3.680 korbannya sudah tidak beroperasi sejak bulan Juni 2019, Selasa 17 Desember 2019. Tempo/ Muhammad Kurnianto

    Kantor PT Wepro, pengembang syariah yang menipu 3.680 korbannya sudah tidak beroperasi sejak bulan Juni 2019, Selasa 17 Desember 2019. Tempo/ Muhammad Kurnianto

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan -Siti Fatimah Amorawati, 41 tahun, salah satu korban dari PT Wepro, pengembang rumah syariah , mengaku telah memberikan uang tanda jadi pembelian rumah sebesar Rp 2 juta. Ia menjadi salah satu dari 3.680 orang yang tertipu untuk membeli rumah bersubsidi. 

    "Awalnya lihat dari brosur, karena murah jadi tertarik, lalu saya datangi kantornya di Bintaro. Di ruko bagus, sehingga semakin tertarik dan pada akhirnya saya kasih booking fee Rp 2 juta atas nama suami saya," katanya, Selasa 17 Desember 2019.

    Siti mengatakan bahwa ia memberikan booking fee untuk membeli rumah syariah subsidi itu pada tahun 2017. Setelah membayar beberapa kali, pihak PT Wepro mengajak para pembeli untuk melihat proyek tersebut.

    "Korban pernah diajak ke lokasi pembangunan untuk memilih lokasi rumah, saat kita diajak ke sana lagi ternyata lokasinya pindah lagi dengan alasan lain satu hal, dan saya mulai curiga," ujarnya.

    Kecurigaan Siti pun terbukti, saat ditunggu rumah yang diimpikan tak kunjung selesai, ia pun meminta uang tanda jadi dikembalikan pada tahun 2018. Dan saat itu permintaannya disetujui PT Wepro.

    "Mereka bilang uangnya cair tunggu sampai 6 bulan, kemudian diundur lagi sampai April 2019. Saat April ke kantornya dijanjikan lagi pengembalian uang pada Oktober 2019. " Saat saya ke sana bulan Oktober ternyata kantornya sudah tutup," ungkapnya.

    Saat ini, lanjut Siti ia berharap uang untuk booking fee kembali karena pembayaran booking fee itu menggunakan uang hasil menjual motor Honda Supra Fit miliknya. Pembelian rumah tersebut tidak memakai uang muka atau down payment karena rumah tersebut bersubsidi.

    "Ya maunya uang kembali, tapi kalau enggak kembali bukan rejeki, mereka bilang setelah bayar booking fee langsung bayar cicilan pertama, tadinya saya senang mau dapat rumah cicilannya murah, malah jadi begini,"imbuhnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.