Pengamat Sebut Jika Ketemu Ular Kobra Jangan Dibunuh, Sebab...

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ular kobra yang ditangkap di Kampung Baru I, pinggiran landasan bandar udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Ahad, 24 November 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    Ular kobra yang ditangkap di Kampung Baru I, pinggiran landasan bandar udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Ahad, 24 November 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rachmat mengatakan ular-ular, termasuk ular kobra, yang ditemukan di daerah rumah warga, harus dipindahkan untuk pengendalian populasi.

    Pasalnya, jika dikurangi secara signifikan maka akan terjadi ledakan populasi dari tikus yang merupakan diet utamanya.

    "Ular ini harus dipindahkan kalau mengganggu. Karena kalau sampai dikurang populasinya maka makanannya bisa terjadi ledakan populasi. Khawatirnya tahun depan jika ular kobra berkurang, tidak ada lagi yang memburu tikus," ujar Aji di Jakarta pada Jumat malam, 20 Desember 2019.

    Siklus rantai makanan adalah sesuatu yang harus dipertahankan karena itu dia meminta bila ada yang melihat kemunculan kobra di dekat pemukiman warga untuk menghubungi pihak profesional seperti petugas pemadam kebakaran atau komunitas pencinta ular untuk dibantu pemindahannya.

    Kunci utamanya adalah pengendalian, kata ketua LSM konservasi ular itu. Dengan tidak semua ular ditangkap tapi dikurangi populasinya untuk memastikan rantai makanan tetap terjaga dan menghindari ledakan populasi tikus.

    Sebelumnya, beberapa daerah di Indonesia dikejutkan dengan penemuan banyak anakan ular kobra yang mencapai puluhan di rumah atau daerah sekitar pemukiman warga.

    Kemunculan ular kobra yang berbisa itu sendiri memang tidak mengejutkan, menurut Aji, karena musim hujan adalah saatnya telur kobra menetas.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.