Intrusi Air Tanah di Jakarta Sudah Sampai Monas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan pembuatan sumur resapan di kawasan Monas, Jakarta, Senin (11/11). Pemprov DKI Jakarta menargetkan selama 2013 akan membangun sekitar 2000 sumur resapan dan pada 2014 sekitar 4000 sumur resapan. ANTARA/Zabur Karuru

    Pekerja menyelesaikan pembuatan sumur resapan di kawasan Monas, Jakarta, Senin (11/11). Pemprov DKI Jakarta menargetkan selama 2013 akan membangun sekitar 2000 sumur resapan dan pada 2014 sekitar 4000 sumur resapan. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar geoteknikal dari Universitas Tarumanegara, Chaidir Anwar Makarim, menyatakan intrusi air tanah di Jakarta sudah makin parah. Dia mengatakan hingga saat ini, intrusi diperkirakan sudah mencapai titik di Monumen Nasional. “Jadi air dalam di kawasan Monas sudah tercemar air laut pada kedalaman 150 meter,” katanya saat dihubungi, Kamis, 23 Januari 2014.

    Chaidir mengatakan intrusi yang terjadi saat ini sudah mencapai Jakarta Pusat. Dia memperkirakan intrusi itu bahkan sudah mencapai Bundaran Hotel Indonesia. Hanya, intrusi di jantung Ibu Kota itu masih berada di air dalam dan belum sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.

    Intrusi yang kian dalam itu tak lepas dari keberadaan sumur-sumur yang dipakai oleh gedung bertingkat. Para pengelola gedung kerap menggunakan sumur dengan kedalaman hingga 150 meter untuk memasok kebutuhan air pengguna gedung. Sedotan air dalam itu yang membuat keseimbangan air dalam tanah menjadi berkurang.

    Dia mengatakan sedotan air hingga 150 meter itu tak lepas dari buruknya kualitas air yang ada di Jakarta. Kondisi itu membuat pengelola gedung sengaja menggunakan sumur dengan kedalaman ratusan meter untuk mendapatkan air yang baik. Soalnya, air permukaan tanah di Jakarta sudah tidak bisa dikonsumsi lagi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.