Prostitusi Online Muncul Akibat Lokalisasi Ditutup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas satpol PP dibantu TNI melakukan penggusuran tempat prostitusi dan hiburan malam di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Senin 26 Januari 2015. Terlihat alat berat yang ikut dikerahkan, dalam aksi penertiban tersebut. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Petugas satpol PP dibantu TNI melakukan penggusuran tempat prostitusi dan hiburan malam di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Senin 26 Januari 2015. Terlihat alat berat yang ikut dikerahkan, dalam aksi penertiban tersebut. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Persatuan Keluarga Berencana Indonesia, Inang Winarso, mengatakan maraknya prostitusi online terjadi akibat ditutupnya lokalisasi di sejumlah daerah. Akhirnya, penutupan ini membuat para perempuan penjaja seks beraksi secara bawah tanah.

    "Itu adalah salah satu dampak. Karena ilegal, mereka cari alternatif," ujar Inang saat berbicara via telepon, Jumat, 17 April 2015.

    Prostitusi online mengemuka di masyarakat setelah Deudeuh Alfi Shahrin, perempuan berusia 26 tahun, tewas karena diduga dibunuh oleh Prio Santoso, seorang guru bimbingan belajar. Deudeuh diduga memasarkan dirinya melalui akun Twitter.

    Inang mengatakan prostitusi online yang kebanyakan dipilih para Pekerja Seks Komersial ini justru membuat mereka semakin rawan ekspoitasi. Bahkan, kemungkinan mengenaskan yang terjadi seperti dialami Deudeuh semakin tinggi.

    Inang beranggapan baik prostitusi online maupun fisik (lokalisasi) tetap memiliki risiko eksploitasi oleh preman setempat ataupun mucikari. Namun, paling tidak, di lokasi pelacuran, keamanan PSK tetap terjaga.

    Sebelumnya, kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala beranggapan kasus Deudeuh adalah bukti pemerintah yang lalai melindungi hak hidup warga negaranya, sekalipun yang bekerja sambilan sebagai PSK. Akhirnya, ketiadaan hukum ini dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak pidana.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.