Rayakan Hari Waisak, Ini Harapan Umat Buddha di Petak Sembilan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga keturunan Tionghoa bersembahyang saat Tahun Baru Imlek di Vihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Jakarta, 28 Januari 2017. Ibadah sembahyang merupakan wujud syukur atas segala rejeki dan mengharapkan kehidupan lebih baik. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Warga keturunan Tionghoa bersembahyang saat Tahun Baru Imlek di Vihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Jakarta, 28 Januari 2017. Ibadah sembahyang merupakan wujud syukur atas segala rejeki dan mengharapkan kehidupan lebih baik. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta – Memperingati hari Tri Suci Waisak, umat Buddha yang bersembahyang di wihara Dharma Bakti di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, berdoa bagi situasi Indonesia. “Semoga Indonesia semakin damai. Semuanya ikut sejahtera dan bahagia,” kata Edi Paino, 31 tahun, Kamis, 11 Mei 2017.

    Situasi Jakarta yang memanas akibat pemilihan kepala daerah membuatnya gerah. “Saya berharap masyarakat Jakarta tetap rukun tanpa ada diskriminasi,” ujar Edi.

    Baca:
    Hadiri Perayaan Waisak 2017, Menteri Luhut: Temanya Sangat Tepat
    Waisak, Jumlah Pengunjung Meningkat di Wihara Petak Sembilan

    Hal serupa disampaikan oleh salah satu pengunjung wihara, Dedi, 41 tahun. Dia berharap situasi bisa lebih tenang. Ia berharap kerukunan tetap terjaga meskipun berbeda paham dan pendapat. “Kami ingin Indonesia damai,” ujar Dedi.

    Susanto, 38 tahun, juga berharap situasi riuh-rendah di Ibu Kota bisa lebih stabil. Ia tidak menginginkan gerakan politik yang tidak menentu membawa situasi tidak nyaman di Jakarta atau pun wilayah lainnya. “Semoga situasi politik bisa lebih tenang,” ujar Susanto.

    Baca juga:
    Mengaku Tentara AS, Warga Nigeria Tipu WNI Rp 186 Juta
    Penangkapan Ki Gendeng, Polisi Dalami Kepemilikan Senjata

    Jumlah pengunjung wihara Dharma Bakti naik sekitar 40 persen sepanjang April-Mei. Salah satu pengurus wihara itu, Rendi Yulius mengatakan kenaikan jumlah pengunjung wihara tidak signifikan lantaran jemaatnya tidak hanya menganut agama Buddha. Kenaikan pengunjung lebih ramai setelah Hari Cheng Beng, yang biasanya jatuh pada 5 April. Warga Tionghoa biasanya akan datang menggelar ritual dan berziarah ke makam. Setelah perayaan itu, wihara akan sepi hingga Juni. Wihara akan kembali ramai biasanya menjelang Juli.

    LARISSA HUDA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.