Kebakaran Manggarai, Kampung Warna-warni Itu Kini Hangus

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sisa lukisan mural di Kampung Bali Matraman, Manggarai usai terjadi kebakaran, Ahad, 14 Juli 2019. TEMPO/Yusuf Manurung

    Sisa lukisan mural di Kampung Bali Matraman, Manggarai usai terjadi kebakaran, Ahad, 14 Juli 2019. TEMPO/Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemandangan indah di Kampung Bali Matraman RW 07 Kelurahan Manggarai Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan berubah dalam sehari akibat kebakaran. Kondisi kampung yang semula berwarna-warni kini berubah menjadi hitam.

    "Dulu rumah di sini warna-warni, sekarang sudah seperti ini, hilang," ujar seorang warga Sapto, Ahad, 14 Juli 2019.

    Baca: Baju Bekas Membludak, Korban Kebakaran Manggarai Minta Alat Tulis

    Sapto bercerita soal beberapa rumah di sana yang sempat dihias dengan berbagai hiasan dinding. Ada lukisan dan mural beraneka warna yang dibuat oleh sekumpulan anak muda di kampung tersebut.

    Kisah itu lalu mengantarkan langkahnya menuju salah satu posko dapur umum yang letaknya tak jauh dari lokasi kebakaran hebat tersebut. Tepat di depan posko itu, sebuah tembok bercorak berdiri kokoh dan menjadi kontras dari sisa-sisa puing kebakaran di belakangnya.

    "Ini salah satu mural yang tidak kena api waktu itu," ujar Acang, seorang korban dan penggagas komunitas mural di kampung tersebut.

    Baca: Soal Rumah Warga Korban Kebakaran Manggarai, Wali Kota: Nanti

    Tembok yang didominasi warna merah dan simbol-simbol keragaman budaya Indonesia itu merupakan satu dari banyak coretan Acang dan kawan-kawannya. Hal itu dilakukannya untuk menjadikan wilayah mereka sebuah ikon kampung di ibu kota. Salah satu motif yang banyak dibuat adalah batik.

    Acang mengatakan generasi muda di kampungnya sangat kompak untuk membantu satu sama lain guna memperindah kampung dengan berbagai motif batik seperti Mega Mendung, Parang Kusumo, Gunungan dan lain sebagainya.

    Kini pemandangan itu sudah hilang akibat kebakaran. Warna-warni itu seketika hilang dan tidak bisa diselamatkan. Sejauh mata memandang, hanya terdapat beberapa mural yang masih ada dan tidak terkena dampak dari peristiwa itu. "Ya pasti. Sedih itu pasti. Itu karya kami untuk kampung, bahkan untuk Jakarta sendiri. Beban moril (moral)nya berat sekali," kata Acang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.