Anji Bilang Tak Mempercayai Media di Indonesia, Ketua AJI: Itu Hak Dia

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Musisi Erdian Aji Prihartanto tiba di Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya untuk memenuhi panggilan atas laporan Muannas Alaidid, Senin 10 Agustus 2020. Pemeriksaan itu dilakukan setelah Anji dan Hadi Pranoto dilaporkan Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid atas dugaan penyebaran berita bohong berupa video yang membahas tentang obat covid-19, yang diklaim meresahkan masyarakat Indonesia yang diunggah di channel youtube Duniamanji. Tempo/Nurdiansah

    Musisi Erdian Aji Prihartanto tiba di Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya untuk memenuhi panggilan atas laporan Muannas Alaidid, Senin 10 Agustus 2020. Pemeriksaan itu dilakukan setelah Anji dan Hadi Pranoto dilaporkan Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid atas dugaan penyebaran berita bohong berupa video yang membahas tentang obat covid-19, yang diklaim meresahkan masyarakat Indonesia yang diunggah di channel youtube Duniamanji. Tempo/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan menilai adalah hak masing-masing orang untuk percaya atau tidak percaya kepada media, menanggapi pernyataan penyanyi Anji pada Senin, 10 Agustus 2020 yang mengaku tak percaya media di Indonesia.

    “Kalau dia tidak percaya dengan media Indonesia, tidak apa-apa juga, itu kan haknya,” kata Manan lewat sambungan telepon kepada Tempo pada Selasa, 11 Agustus 2020.

    Baca juga : 5 Fakta Pemeriksaan Anji: Tak Percaya Media hingga Kerja Sama IDI

    Menurut Manan apabila Anji tidak percaya kepada media yang menurutnya tidak sejalan dengan pemahamannya, adalah hak masing-masing orang untuk memilih percaya atau tidak terhadap media yang dikonsumsi.

    Selain itu, ia menilai tidak bisa untuk benar-benar mengetahui alasan dibalik pernyataan musisi tersebut. “Kita tidak tahu persis apa yang membuat Anji tidak percaya,” tambahnya.

    Dari sisi media dan jurnalisme, Manan menilai pernyataan tersebut juga bisa dilihat sebagai sebuah kritik terhadap media Indonesia. Menurutnya mungkin ada kontribusi kecerobohan media dalam memuat berita, yaitu mengunggah mentah-mentah sebuah informasi tanpa konfirmasi dan verifikasi kepada sumber-sumber yang tepat. Menurutnya jika sebuah klaim dinilai tidak berdasar, seharusnya tidak ditulis, atau ditulis dengan penjelasan apakah klaim tersebut rasional atau tidak.

    “Makanya Anji jadi berpikir, ‘kan sudah dimuat media artinya media mempercayainya, kok sekarang saya dipersoalkan.’ Jadi memang basisnya itu kritik media, kenapa dulu media itu memuatnya tanpa sikap kritis itu?” kata Manan.

    Sebelumnya tercatat seusai pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada Senin, 10 Agustus 2020, Anji mengatakan dirinya tak percaya media di Indonesia. "Yang jelas banyak pelajaran, bahwa gini, ternyata saya tidak bisa percaya sama media-media yang ada di Indonesia juga. Maksudnya begini, bukan, bener ya kalimatnya begitu," kata Anji.

    Menurut Anji sejak sebelum wawancaranya tayang, berita tentang Hadi Pranoto dan temuannya soal obat Covid-19 sudah terbit di media daring.

    Dia mengaku banyak membaca media online lokal mengenai klaim tersebut, dan kemudian memutuskan untuk mewawancara Hadi Pranoto di kanal YouTube Dunia Manji agar bisa membagi informasi tersebut ke masyarakat luas.

    WINTANG WARASTRI | DA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hati-hati, Ada 5 Tempat Rawan Penularan Virus Corona di Kantor

    Penelitian mengumpulkan daftar lima titik risiko penyebaran Covid-19 di kantor. Sejumlah titik penularan virus corona sering kita abaikan.