Setahun Covid-19 Jakarta: Karantina Wilayah yang Batal, PSBB Hingga PPKM Mikro

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada pemain Timnas sepak bola U-23 Yakob Sayuri di Istora Senayan, Jakarta, Jumat, 26 Februari 2021. ANTARA

    Petugas menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada pemain Timnas sepak bola U-23 Yakob Sayuri di Istora Senayan, Jakarta, Jumat, 26 Februari 2021. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua pekan setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 pada 2 Maret 2020, ratusan kasus dilaporkan terjadi di Jakarta. Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan tren kasus Covid-19 di Jakarta naik signifikan dalam waktu 18 hari. 

    Berdasarkan laman resmi tim gugus Covid 19 DKI pada, 19 Maret 2020, sedikitnya 17 orang meninggal dan 208 pasien dinyatakan positif corona. "Jakarta ini sekarang epicenter, di tempat ini kejadiannya sudah masif," ujar Anies Baswedan di Balai Kota Jakarta Pusat, Kamis 19 Maret 2020.

    Menurut Anies, solusi paling efektif untuk pencegahan saat itu adalah pembatasan interaksi warga. Dia juga telah memerintahkan jajarannya hingga tingkat lurah dan RW untuk membatasi interaksi langsung antar warga. Saat itu, Anies menyatakan akan mengambil langkah agresif terutama dalam membatasi interaksi warga dalam upaya pencegahan virus Corona.

    Di antaranya adalah memutuskan untuk meniadakan kegiatan keagamaan di seluruh rumah ibadah di Jakarta. Anies juga mempertimbangkan menerapkan karantina wilayah.

    Pada akhir Maret tahun lalu, Anies pun telah mematangkan rencana untuk mengunci Ibu Kota. Anies mengaku telah menyusun sejumlah langkah terkait rencana itu.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.