Anies Baswedan Sepakat Lapangan Tembak Senayan Harus Dipindah

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lapangan tembak reaksi di Lapangan Tembak Senayan, diduga menjadi lokasi asal peluru nyasar ke gedung DPR, Selasa 16 Oktober 2018. Tempo/ M Yusuf Manurung

    Lapangan tembak reaksi di Lapangan Tembak Senayan, diduga menjadi lokasi asal peluru nyasar ke gedung DPR, Selasa 16 Oktober 2018. Tempo/ M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan rencana pemindahan Lapangan Tembak Senayan saat ini tengah dibahas bersama Sekretariat Negara, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin). Rencana pemindahan ini muncul setelah terjadi insiden peluru nyasar ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

    Baca: Peluru Nyasar, Wacana Lapangan Tembak Senayan Ditutup Menguat

    "Pemprov DKI akan mendukung dan membantu fasilitasi untuk tata ruangnya, sehingga bisa mendapatkan lokasi yang aman," ujar Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Oktober 2018. Saat ini Anies belum menentukan lokasi baru untuk lapangan tembak itu.

    Anies mengatakan, sejak awal Lapangan Tembak Senayan peruntukannya adalah ruang terbuka hijau. Di tempat itu juga banyak fasilitas umum seperti sekolah, kantor pemerintah, dan bangunan lain. Sehingga keberadaan lapangan tembak dinilai beresiko besar. "Saya lihat datanya, ternyata memang peluru nyasar ini bukan insiden pertama atau kedua, bahkan sudah berkali-kali," ujar Anies. 

    Baca: Lapangan Tembak di Cijantung, DKI Kucurkan Dana Rp 750 Juta

    Insiden peluru nyasar terakhir terjadi pada 15 Oktober 2018. Peluru yang diletuskan di lapangan tembak menyeberang ke kompleks parlemen. Polisi telah menetapkan dua orang sebagai tersangka karena dianggap lalai saat berlatih menembak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fakta-fakta Pelantikan Jokowi - Ma'ruf, Dihadiri Prabowo - Sandi

    Selain beberapa wakil dari berbagai negara, pelantikan Jokowi - Ma'ruf ini dihadiri oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.