Minggu, 18 November 2018

Foya-foya Bos First Travel: Keliling Eropa dan Beli Restoran

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus dugaan penipuan biro perjalanan umrah First Travel Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki Hasibuan saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2018. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    Terdakwa kasus dugaan penipuan biro perjalanan umrah First Travel Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki Hasibuan saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2018. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO, Depok –  Pemilik dan pimpinan PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel menggunakan sebagian besar  uang milik 93.295 calon jemaah umroh untuk foya-foya dan aktivitas yang tidak berkaitan dengan umroh.

    Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutan dan membeberkan daftar foya-foya yang dilakukan Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan (istri Andika), dan Komisaris Utama Kepala Divisi Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat pada Senin 19 Februari 2018.

    Baca juga:

    Mengintip Rumah Mewah Bos First Travel di Sentul City
    Daftar Barang Bukti Kasus First Travel, Ada Ratusan Gaun

    “Aliran dana nasabah First Travel banyak digunakan untuk keperluan pribadi para terdakwa,” kata  Ketua Tim JPU Heri Jerman.  Menurutnya, sejak sejak Januari 2015 hingga Juni 2017, ketiga terdakwa berhasil menghimpun 93.295 calon jemaah dengan total jumlah uang Rp 1,3 triliun lebih.

    Namun baru 29.985 jemaah yang diberangkatkan dengan rincian jamaah yang VIP 16 orang, reguler 1.296 orang dan paket promo 2017 sebanyak 28.673 orang.

    Sehingga masih ada 63.310 calon jemaah yang belum berangkat dengan total yang telah disetorkan sebanyak Rp 900 miliar lebih. “ Uang itu tidak dikembalikan kepada jemaah atau memberangkatkan jemaah, tapi dialihkan ke yang lain,” lanjut Heri.

    Dikatakan Heri sebanyak Rp 164 miliar dibayarkan untuk menutupi kekurangan biaya jemaah yang berangkat menggunakan paket promo 2017 yakni sebanyak 28.673 jemaah.

    Paket promo yang ditawarkan  First Travel adalah Rp 14,3 juta per jemaah. Padahal biaya umroh yang seharusnya Rp 20 juta, sehingga untuk menutupi kekurangannya menggunakan dana nasabah yang lain yang belum berangkat.

    Uang nasabah  yang sudah disetorkan juga digunakan untuk membayar gaji karyawan sebanyak Rp 800 juta perbulan dikali 30 bulan dengan  total Rp24 miliar. Lalu pembayaran fee agen Rp 5,9 miliar dan pembayaran fee koordinator  Rp 1 juta per seratus jemaah yang mendaftar di kantor pusat.

    Selain untuk menutupi sebagian kekurangan dan operasional kantor, lanjut Heri, dana nasabah juga mengalir ke kantong pribadi dan memenuhi kebutuhan pribadi Andika Surachman, Anniesa Hasibuan dan Kiki Hasibuan.

    Simak juga:

    Aparat Kepolisian Jaga Ketat Sidang Perdana Kasus First Travel
    Bos First Travel Anniesa Hasibuan Disidangkan, Ini Harapan Korban

    “Mereka juga menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi yang sama sekali tidak berguna bagi jemaah,” kata Heri.

    Tim JPU membeberkan daftar foya-foya ketiga terdakwa dalam kurun waktu 2015 hingga 2017, antara lain:

    1.   Jalan-jalan keliling Eropa Rp 8,6 miliar
    2.   Sewa both even “Hallo Indonesia” bisnis yang dijalankan oleh Anniesa Hasibuan di London, Inggris Rp 2 miliar
    3.   Pembelian Jam tangan merk Carl Bucheer Rp200 juta
    4.   Pembelian incinn berlian seharga Rp150 juta
    5.  Tas mewah merk Gucci Rp18 juta, merk Furla Rp24 juta, dan merk Louis Vuitton Rp30 juta
    6.   Pembelian Bisnis restoran yang dinamakan Nusa Dua Restaurant Rp 10 miliar
    7.   Pembelian Perusahaan PT. Hijrah Bersama Takwa Rp 1,2 miliar
    8.   Pembelian tanah seluas 100 meter di Lombok Rp100 juta
    9.   Pembelian tanah dan bangunan di Sentul City, Bogor Rp 10 miliar
    10. Pembelian sebidang tanah dan bangunan Cluster Vasa Kebagusan, Jakarta Selatan Rp 1,5 miliar
    11. Pembelian tanah dan bangunan di Kelurahan Tugu, Cimanggis, Depok, Rp 500 juta
    12.  Pembelian tanah dan bangunan kantor First Travel di Radar Auri, Cimanggis, Depok Rp 5 miliar
    13.  Pembelian perusahaan PT. Interculture Torindo Rp 1.2 milar
    14.  Pembelian perusahaan Yamin Duta Makmur Rp 2,5 miliar
    15.  Pembelian 1 unit Apartemen Puri Park View lantai 8, Kembangan, Jakarta Barat Rp 400 juta
    16.  Sewa kantor di Gedung Atrium Mulia Suite, Rasuna Said, Jakarta Selatan Rp 1,3 miliar
    17.  Sewa kantor GKM Tower, Jl TB Simatupan, Jakarta Selatan Rp 8,2 miliar
    18.  Sewa gedung Promonade di Kemang Selatan, Rp 800 juta.
    19.  Pembelian mobil Nissan Grand Livina seharga Rp 100 juta
    20.  Pembelian mobil Toyota Fortuner seharga Rp 350 juta
    21.  Pembelian mobil BMW Z4 seharga Rp700 juta
    22.  Pembelian mobil Daihatsu Sirioin seharga Rp100 juta
    23.  Pembelian mobil Humer seharga Rp 3,5 miliar
    24.  Pembelian mobil Toyota Velfire seharga Rp 1 miliar
    25.  Pembelian mobil Mitsubishi Pajero seharga Rp 500 juta
    26.  Pembelian mobil Mercedes Benz  Rp 1 miliar
    27.  Pembelian mobil VW seharga Rp 1 miliar
    28.  Pembelian dua unit mobil Toyota Avanza Rp 280 juta
    29.  Pembelian mobil Mitsubisi seharga Rp 160 juta
    30.  Pembelian dua unit mobil Daihatsu Xenia dengan harga Rp 220 juta
    31.  Pembelian mobil Daihatsu Grand Max seharga Rp 120 juta
    32.  Pembelian mobil Luxio seharga Rp 140 juta
    33.  Pembelian mobil Toyota Fortuner seharga Rp 350 juta
    34.  Pembelian mobil Honda HR-V  untuk inventaris First Travel seharga Rp 165 Juta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.