Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Selain Sengkon dan Karta, Pegi Setiawan Menambah Panjang Daftar Korban Salah Tangkap Polisi

image-gnews
Petugas Kepolisian menggiring tersangka kasus pembunuhan Pegi Setiawan untuk dihadirkan pada konferensi pers yang digelar di Gedung Ditreskrimum Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Minggu 26 Mei 2024. Polda Jabar berhasil menangkap Pegi Setiawan alias perong atas dugaan kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan Muhammad Rizky yang terjadi di Cirebon pada tahun 2015 silam. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Petugas Kepolisian menggiring tersangka kasus pembunuhan Pegi Setiawan untuk dihadirkan pada konferensi pers yang digelar di Gedung Ditreskrimum Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Minggu 26 Mei 2024. Polda Jabar berhasil menangkap Pegi Setiawan alias perong atas dugaan kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan Muhammad Rizky yang terjadi di Cirebon pada tahun 2015 silam. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Bandung Eman Sulaeman mengabulkan semua gugatan praperadilan Pegi Setiawan. Penetapan tersangka terhadap Pegi dalam kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan Muhammad Rizky Rudian alias Vina dan Eky di Cirebon pada 2016 dinilai cacat hukum. Hal ini membuktikan Pegi menjadi korban salah tangkap kepolisian.

“Mengabulkan permohonan praperadilan termohon untuk seluruhnya,” kata hakim Eman Sulaeman saat membacakan sidang putusan praperadilan di Bandung, Senin, 8 Juli 2024.

Kasus salah tangkap Pegi Setiawan oleh kepolisian menjadi perhatian masyarakat. Banyak pihak telah menduga sebelumnya bahwa ada kejanggalan dalam penangkapan terhadap Pegi. Kepolisian Daerah Jawa Barat atau Polda Jabar ujug-ujug menciduk Pegi tanpa adanya surat pemanggilan pemeriksaan, baik sebagai saksi ataupun calon tersangka.

Hal ini menjadi polemik sebab menurut putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21 Tahun 2014, pemeriksaan tetap diwajibkan kendati telah mengantongi dua alat bukti. Bukan hanya melanggar aturan MK, dalam persidangan praperadilan Pegi, hakim PN Bandung menyatakan Polda Jabar bahkan tidak memiliki dua alat bukti penetapan tersangka terhadap Pegi.

“Menimbang oleh karena fakta persidangan tidak ditemukan bukti satu pun yang menunjukkan termohon pernah dilakukan pemeriksaan sebagai calon tersangka maka menurut hakim penetapan tersangka tidak sah dan dinyatakan batal demi hukum,” kata Eman.

Termasuk Pegi Setiawan, berikut beberapa kasus salah tangkap kepolisian yang pernah terjadi.

Sengkon dan Karta. Data TEMPO

1. Sengkon dan Karta

Salah satu kasus salah tangkap yang paling fenomenal adalah Sengkon dan Karta. Kedua petani asal Bekasi, Jawa Barat itu ditangkap atas tuduhan perampokan dan pembunuhan pasangan suami-istri, Sulaiman-Siti Haya, warga Desa Bojongsari. Majalah Tempo pernah membuat laporan terkait kasus salah tangkap Sengkon dan Karta ini.

Sengkon divonis 13 tahun penjara dan Karta 7 tahun oleh PN Bekasi pada 1977. Keduanya disebut telah mengaku membunuh, sebagaimana dituangkan dalam berita acara pemeriksaan polisi. Setelah sebelumnya mendekam di sel Bekasi, mereka kemudian dijebloskan ke penjara di Lapas Cipinang, Jakarta.

Di Lapas Cipinang, keduanya bertemu dengan Genul, keponakan Sengkon yang dibui lantaran kasus pencurian. Fakta sebenarnya pun terungkap. Genul mengaku bahwa dirinyalah pembunuh Sulaiman dan Siti. Setelah pengakuannya itu, Genul diadili dan divonis 12 tahun penjara.

Namun, pengadilan terhadap Genul bukan berarti Sengkon dan Karta lantas dibebaskan. Pada masa itu, lembaga peninjauan kembali sudah dibekukan. Akibatnya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum teta tidak bisa ditinjau. Baru setelah Ketua Mahkamah Agung, Oemar Seno Adji membuka kembali lembaga herziening itu, keduanya dinyatakan bebas murni.

Ironisnya, penderitaan mereka belum selesai. Selepas keluar dari jeruji, Sengkon dirawat di rumah sakit lantaran tuberkulosisnya makin parah. Sementara Karta, bapak 12 anak, harus menemui kenyataan pahit keluarga yang kocar-kacir. Tanah Karta habis lantaran dijual untuk penghidupan keluarganya dan membiayai diproses pengadilan.

Pada 1982, Karta akhirnya tutup usai setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Sengkon menyusul pada 1988 setelah bertahun-tahun menderita tuberkulosis sekeluarnya dari penjara. Berdekade seterusnya, kasus salah tangkap dan salah sasaran menjatuhkan hukuman terus terjadi.

Mantan pengamen korban salah tangkap pihak kepolisian, Agra (kanan), Fatahillah (tengah), dan Fikri menjalani sidang praperadilan korban salah tangkap di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 22 Juli 2019. Tiga dari empat korban tersebut menuntut agar Kepolisian dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta meminta maaf dan menyatakan mereka telah melakukan salah tangkap, salah proses, dan penyiksaan terhadap para anak-anak pengamen Cipulir. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

2. Pengamen Cipulir

Kejadian salah tangkap kepolisian juga dialami oleh pengamen Cipulir pada 30 Juni 2013. Korban adalah Arga Putra Samosir yang saat itu berusia 14 tahun; Fatahillah, 14 tahun; Fikri Pribadi, 16 tahun; Bagus Firdaus, 17 tahun; Andro Suprianto, 18 tahun; dan Nurdin Prianto, 23 tahun.

Para pengamen Cipulir itu biasa berkumpul di bawah kolong jembatan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tak ada yang menyana penghujung Juni menjadi hari sial bagi mereka. Di tempat biasa berkumpul itu mereka justru mereka menemukan Dicky Maulana, sesama pengamen jalanan, dalam keadaan sekarat.

Dicky akhirnya meninggal dunia. Arga kemudian melapor temuan itu kepada pihak keamanan terdekat dan diteruskan kepada Polsek Pesanggrahan. Tak lama kemudian personel datang dan memboyong Arga, Andro, dan Bagus ke kantor polisi. Singkat cerita, para pengamen itu justru dituduh sebagai pelaku.

Mereka juga disiksa agar mengakui perbuatan membunuh Dicky. Para remaja bernasib apes itu dijebloskan ke penajara di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya selama satu bulan tiga hari sebelum berkas dikirim ke Kejaksaan. Setelah berbagai persidangan, mereka kemudian divonis bersalah dengan hukuman rata-rata tiga tahun penjara.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

LBH Jakarta lantas mengajukan berbagai upaya agar para pengamen Cipulir itu bebas. Setelah banding ditolak oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, kasasi kemudian diajukan ke Mahkamah Agung. Majelis kasasi MA memutuskan para pengamen tak bersalah dan divonis bebas. Andro dan Nurdin dilepas pada April 2014, sementara Arga, Fatahillah, Bagus, dan Fikri pada Januari 2016.

3. Oman Abdurohman

Oman Abdurohman, warga Banten, ditangkap Polres Lampung Utara karena dugaan terlibat kasus perampokan di kediaman Budi Yuswo Santoso. Tempat Kejadian Perkara atau TKP di Dusun V Dorowati, Desa Penagan Ratu, Abung Timur, Lampung Utara pada 22 Agustus 2017.

Oman dipaksa mengaku oleh pihak kepolisian. Dalam perjalanan ke Lampung Utara, polisi menurunkan Oman di kawasan perkebunan dan diinterogasi dengan kekerasan. Kaki kiri Oman ditembak, yang membuatnya terpaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya itu. Oman lalu dijebloskan ke penjara selama 10 bulan.

Pada 4 Juni 2018, majelis hakim memvonis bebas Oman karena tak terbukti bersalah. Ia kemudian mengajukan gugatan kerugian atau ganti rugi sebesar Rp 322 juta kepada pihak kepolisian dan kejaksaan Lampung Utara. Pada 2019, Pengadilan Negeri Kotabumi, Lampung Utara menyatakan negara wajib membayar kompensasi senilai Rp 220 juta. Ganti rugi itu baru dibayarkan pada Senin, 8 Januari 2024 lalu.

4. Salah tangkap suami-istri penjual kripik diduga jaringan perampok 

Pasangan suami istri, Subur dan Titin menjadi korban salah tangkap anggota Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Bogor pada Rabu, 7 Februari 2024. Kejadian tersebut terjadi di SPBU Pasir Angin di Cileungsi, Kabupaten Bogor. Pada saat itu, Subur dan Titin akan menjual keripik ke pasar dengan mengendarai minibus. Ketika singgah di SPBU untuk mengisi BBM, tiba-tiba ada dua kendaraan datang. Para penumpang dua kendaraan itu langsung menyergap pasutri itu.

Kejadian yang terekam CCTV itu lantas viral di media sosial. Kapolres Bogor Ajun Komisaris Besar Rio Wahyu Anggoro kemudian mencopot anggota Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) yang salah tangkap pasangan suami istri tersebut. Pencopotan dilakukan sejak Jumat, 9 Februari 2024. Kasus salah tangkap ini terjadi ketika polisi tengah menyelidiki kasus perampokan di Rancabungur, Kabupaten Bogor. Pasangan suami istri itu sempat dicurigai sebagai anggota sindikat perampokan tersebut.  

"Sudah saya periksa dan saya copot hari Jumat kemarin," kata Rio dikonfirmasi. Senin, 12 Februari 2024.

Pendukung menandatangani spanduk dukungan usai penundaan sidang perdana praperadilan Pegi Setiawan di Pengadilan Negeri Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin 24 Juni 2024. Majelis Hakim menunda sidang perdana gugatan praperadilan yang diajukan kuasa hukum Pegi Setiawan atas penetapan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina Cirebon akibat ketidakhadiran pihak termohon dari Polda Jabar. ANTARA FOTO/Novrian Arbi

5. Pegi Setiawan

Polda Jawa Barat (Jabar) menangkap Pegi Setiawan pada 21 Mei 2024. Kala itu, Pegi dituding sebagai satu dari tiga buronan kasus pembunuhan Vina dan Eky. Dua buronan lainnya adalah Dani dan Andi. Akan tetapi, setelah penangkapan Pegi, polisi menyatakan buronan kasus ini hanya satu.

Pencarian terhadap Pegi Setiawan dilakukan setelah kisah pembunuhan Vina dan Eky delapan tahun lalu diangkat menjadi film. Berdasarkan temuan Tempo, terdapat sejumlah kejanggalan dalam penyelidikan dan penyidikan kasus ini. Diantaranya adalah perubahan bukti visum dan tak adanya bekas luka tusukan terhadap keduanya seperti yang diklaim oleh polisi.

Penangkapan Pegi juga sempat ramai di jagat maya lantaran dinilai ada kejanggalan. Pada konferensi pers Polda Jabar, Ahad siang, 26 Mei 2024, pihak kepolisian membawa Pegi ke depan publik. Pegi mengaku, jika ia bukan pelaku pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Vina dan Eky. Bahkan Pegi sampai mengucapkan sumpah mati.

“Saya bukan pelaku pembunuhan. Saya rela mati,” kata Pegi, pada 26 Mei 2024.

Setelah mengakui dirinya bukan pembunuh, polisi yang menjaga Pegi sontak menahan dan berupaya menutup mulutnya. Video konferensi pers dengan pengakuan Pegi ini diunggah di media sosial dan menjadi perbincangan publik. Bahkan, pengacara kondang, Hotman Paris, turut bersuara mempertanyakan keadilan bagi Pegi yang diduga sebagai korban salah tangkap.

HENDRIK KHOIRUL MUHID  | ADVIST KHOIRUNNIKMAH | MICHELLE GABRIELA | MAJALAH TEMPO

Pilihan Editor: Kilas Balik Korban Salah Tangkap Fenomenal Sengkon dan Karta

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Janji Kapolri Listyo Sigit dalam Pengusutan Kasus Pembunuhan Vina

16 jam lalu

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat ditemui di Lapangan Garuda Pertamina Hulu Rokan, Dumai, Riau usai Peringatan Hari Lahir (Harlah) Pancasila Tahun 2024 pada Sabtu, 1 Juni 2024. TEMPO/Adinda Jasmine
Janji Kapolri Listyo Sigit dalam Pengusutan Kasus Pembunuhan Vina

Adang Daradjatun meminta Polri meningkatkan penyidikan kasus pembunuhan Vina dengan mengedepankan SCI.


Dugaan Penyiksaan oleh 10 Anggota Polres Klungkung, Polda Bali: Jangan Dengarkan Satu Pihak Saja

18 jam lalu

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali Komisaris Besar Jansen Avitus Panjaitan (tengah) didampingi oleh Kepala Kepolisian Resor Denpasar Komisaris Besar Wisnu Prabowo (kanan) dan Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Kolonel Inf. Agung Udayana menunjukkan foto
Dugaan Penyiksaan oleh 10 Anggota Polres Klungkung, Polda Bali: Jangan Dengarkan Satu Pihak Saja

Kabid Humas Polda Bali Kombes Jansen Avitus Panjaitan mengatakan bila ada anggotanya yang salah akan ditindak.


Peradi Minta Iptu Rudiana Segera Muncul ke Publik Ungkap Kebenaran Kasus Pembunuhan Vina

21 jam lalu

Iptu Rudiana orang tua Eki dalam kasus pembunuhan 'Vina Cirebon. FOTO/Instagram
Peradi Minta Iptu Rudiana Segera Muncul ke Publik Ungkap Kebenaran Kasus Pembunuhan Vina

Tim Peradi melaporkan Iptu Rudiana ke Bareskrim atas dugaan kesaksian palsu dalam kasus pembunuhan Vina.


7 Terpidana Kasus Vina Surati Dirjen PAS, Minta DIkembalikan ke Lapas Cirebon

1 hari lalu

Tim Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) melaporkan Rudiana, ayah dari Muhamad Rizky Rudiana (Eky), soal dugaan kesaksiaan palsu dan penganiayaan 7 terpidana kasus Vina Cirebon ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu, 17 Juli 2024.TEMPO/Advist Khoirunikmah.
7 Terpidana Kasus Vina Surati Dirjen PAS, Minta DIkembalikan ke Lapas Cirebon

Para terpidana kasus pembunuhan Vina dan Eky itu mulai dipindahkan ke Bandung sejak Pegi Setiawan ditetapkan sebagai tersangka.


Terpidana Kasus Pembunuhan Vina Laporkan Ayah Eky ke Bareskrim Atas Dugaan Penganiayaan

1 hari lalu

Tim Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) melaporkan Rudiana, ayah dari Muhamad Rizky Rudiana (Eky), soal dugaan kesaksiaan palsu dan penganiayaan 7 terpidana kasus Vina Cirebon ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu, 17 Juli 2024.TEMPO/Advist Khoirunikmah.
Terpidana Kasus Pembunuhan Vina Laporkan Ayah Eky ke Bareskrim Atas Dugaan Penganiayaan

Terpidana kasus pembunuhan Vina melaporkan Rudiana yang adalah ayah Eky ke Bareskrim atas dugaan penganiayaan dan intimidasi.


Kronologi Pria di Bali Diduga Diciduk dan Disiksa 10 Polisi Selama 3 hari Hingga Cacat Permanen

1 hari lalu

Perwakilan kuasa hukum I Wayan Suparta, Muhammad Yahya Ihyaroza, melaporkan dugaan tindak penyiksaan yang dilakukan oleh 10 anggota dari Polres Klungkung Bali ke Propam Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 17 Juli 2024. TEMPO/Defara
Kronologi Pria di Bali Diduga Diciduk dan Disiksa 10 Polisi Selama 3 hari Hingga Cacat Permanen

Kronologi penangkapan dan penyiksaan oleh 10 anggota Polres Klungkung Bali terhadap I Wayan Suparta. Kasus ini dilaporkan ke Propam Mabes Polri.


I Wayan Suparta Disekap dan Dianiaya 10 Polisi Klungkung Bali, Kuasa Hukum Lapor ke Propam Polri

1 hari lalu

Perwakilan kuasa hukum I Wayan Suparta, Muhammad Yahya Ihyaroza, melaporkan dugaan tindak penyiksaan yang dilakukan oleh 10 anggota dari Polres Klungkung Bali ke Propam Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 17 Juli 2024. TEMPO/Defara
I Wayan Suparta Disekap dan Dianiaya 10 Polisi Klungkung Bali, Kuasa Hukum Lapor ke Propam Polri

Terdapat 5 kendaraan milik I Wayan Suparta yang disita oleh Polres Klungkung hingga saat ini.


Pegi Setiawan Bebas, Kabareskrim: Kita Tidak Akan Memaksakan Seseorang Menjadi Tersangka

2 hari lalu

Kepala Bareskrim Polri, Komjen Wahyu Widada memberikan keterangan saat konferensi pers kasus Penggelapan (International Mobile Equipment Identity) IMEI di Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 28 Juli 2023. Kabareskrim Badan Reserse Kriminal (Bareskirm) Polri menetapkan enam tersangka dalam kasus pelanggaran IMEI di Indonesia, aksi ilegal ini dilakukan pada 10-20 Oktober 2022 lalu. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Pegi Setiawan Bebas, Kabareskrim: Kita Tidak Akan Memaksakan Seseorang Menjadi Tersangka

Soal kasus Pegi Setiawan, Kabareskrim Komjen Wahyu Widada menyatakan penyidik tidak akan memaksakan seseorang menjadi tersangka.


Evaluasi Penyidik Kasus Vina Cirebon, Polri Libatkan Propam Hingga Irwasum

3 hari lalu

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Wahyu Widada. Tempo/Febri Angga Palguna
Evaluasi Penyidik Kasus Vina Cirebon, Polri Libatkan Propam Hingga Irwasum

Proses evaluasi penyidik kasus Vina Cirebon dilakukan oleh Profesi dan Pengamanan (Propam) dan Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) Polri.


Cerita Pegi Setiawan Detik-Detik Ditangkap Polisi dan Kaki Diinjak Penyidik

4 hari lalu

Petugas Kepolisian menggiring tersangka kasus pembunuhan Pegi Setiawan untuk dihadirkan pada konferensi pers yang digelar di Gedung Ditreskrimum Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Minggu 26 Mei 2024. Polda Jabar berhasil menangkap Pegi Setiawan alias perong atas dugaan kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan Muhammad Rizky yang terjadi di Cirebon pada tahun 2015 silam. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Cerita Pegi Setiawan Detik-Detik Ditangkap Polisi dan Kaki Diinjak Penyidik

Pegi Setiawan menceritakan detik-detik dirinya ditangkap personel Polda Jawa Barat atas tuduhan pelaku pembunuhan Vina dan Eky